RELUNG.ID — 10 Januari merupakan hari berdirinya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) setiap pada tanggal tersebut PDIP selalu merayakan momen itu dengan mengusung tema khusus yang berbau dengan sejarah.
Di 2024 ini juga perayaan berdiri PDIP mengangkat tema tentang perlawanan terhadap orde baru. Dipilihnya tema itu karena ingin mengingatkan perjalanan panjang yang telah dilalui PDIP sejak 1927 silam.
Relungners pasti ada yang belum tahu bagaimana perjalanan PDIP hingga sudah berusia 51 tahun? Yuk baca sejarah yang dikutip RELUNG.ID dari situs resmi PDIP.
Baca Juga: Memperingati Hari Tritura, Sejarah Bersejarah Pembentukan Orde Baru di Indonesia
Sejarah PDIP
Dimulai sejak 4 Juli tahun 1927 PDIP didirikan presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. sebagai partai politik namun namanya belum PDIP melainkan Partai Nasional Indonesia (PNI)
Pada tahun 1973 PDIP mulai direncanakan untuk didirikan, bermula di tahun 1972 PNI memutuskan bergabung dengan beberapa partai seperti Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan Partai Katolik.
Di tanggal 10 Januari 1973 kelima partai tersebut melakukan kesepakatan untuk bersatu dan membuat nama baru menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
Baca Juga: Mengenang Sejarah Kota Tertua di Indonesia, Palembang
Namun Pembentukan awal PDI diwarnai dengan konflik internal yang semakin memuncak karena adanya intervensi dari pemerintah. Meski begitu, jalan keluarnya ada dengan memilih Megawati Soekarnoputri menjadi ketua umum PDI
Ternyata tidak sampai disitu, Megawati tidak dapat dukungan karena tidak sejalan dengan pemerintah Soeharto. Bahkan ada penerbitan surat larangan saat Kongres Luar Biasa (KLB) 2-3 Desember 1993 di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur.
Sayangnya apa yang dilakukan pemerintah Soeharto bertolak belakang dengan peserta KLB. Dengan begitu Megawati akhirnya dinyatakan menjadi Ketum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI periode 1993-1998 secara de facto.
Baca Juga: Fakta-fakta dan Sejarah LRT Palembang, Diawali dengan Usulan Monorel
Selanjutnya pada tanggal 22-23 Desember 1993 di Jakarta dilakukan Musyawarah Nasional (Nasional) dan mengukuhkan Megawati Soekarnoputri sebagai Ketum DPP PDI secara de jure.
Konflik kembali terjadi, kini perselisihan ada di internal PDI hingga ada Kongres pada 22-23 Juni 1996 di Asrama Haji Medan. Sebelumnya pendukung Megawati telah melakukan unjuk rasa hingga bentrok dengan aparat keamanan di 20 Juni 1996.
Pada bulan berikutnya, tepatnya di 15 Juli 1996, pemerintah Soeharto membuat kejutan dengan mengeluarkan keputusan mengukuhkan Suryadi sebagai Ketum DPP PDI.
Baca Juga: Indonesia Dukung Upaya Afrika Selatan Bawa Kasus Genosida Israel ke Mahkamah Internasional
Karena adanya keputusan tersebut, membuat pendukung Megawati berontak dengan menggelar Mimbar Demokrasi pada 27 Juli 1996 di halaman kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro Nomor 58, Jakarta Pusat.
Ketika melakukan tersebut, para pendukung Suryadi dengan menggunakan baju merah muncul dan membuat hari ini menjadi panas dan terjadilah bentrok. Selain bentrokan antar kubu Megawati dan Pemerintah Soeharto itu juga dikenal sebagai Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli atau peristiwa Kudatuli.
Setelah kejadian di Kudatuli, PDI dalam kepemimpinan Suryadi harus menelan pil pahit karena hanya mendapatkan 11 kursi di DPR yang disebabkan pemerintah Soeharto jatuh pada reformasi 1998.
Baca Juga: Berdiri Selama 59 Tahun, Begini Sejarah dan Fakta Jembatan Ampera
Sementara PDI yang di bawah pimpinan Megawati semakin kuat di saat Suryadi melemah. Hingga akhirnya, Megawati diputuskan sebagai ketum DPP PDI periode 1998-2003 pada Kongres ke-V di Denpasar, Bali. Saat itulah nama PDI Perjuangan tercipta karena karena ingin mengikuti pemilihan umum.
Begitulah rangkuman sejarah PDIP berdiri hingga sekarang masuk ke 51 tahun. Semoga bermany untuk Relungnres.

