RELUNG.ID — Menurunnya permintaan dari pasar Eropa serta melemahnya penjualan di Indonesia telah memengaruhi kinerja keuangan Coca-Cola, salah satu produsen minuman ringan terbesar di dunia. Coca-Cola Europacific Partners, unit pembotolan Coca-Cola untuk kawasan Eropa Barat, Australia, dan Selandia Baru, telah menurunkan perkiraan penjualan tahunannya.
Dilansir dari Reuters, Rabu (6/11/2024), meskipun permintaan minuman bersoda tetap kuat, konsumen dari kalangan berpenghasilan rendah semakin berhati-hati dalam pengeluaran mereka, memilih makan di rumah daripada makan di luar. Kondisi ini berdampak pada volume penjualan Coca-Cola Europacific Partners, yang memasok produk Coca-Cola, Fanta, Sprite, dan Monster ke jaringan restoran cepat saji seperti McDonald’s dan KFC.
Di Eropa, penurunan volume penjualan terlihat mencapai 1,4 persen pada kuartal ketiga, meskipun lebih kecil dibandingkan penurunan 4 persen pada kuartal sebelumnya. Penurunan yang lebih kecil ini terbantu oleh peningkatan konsumsi di festival musik dan acara olahraga seperti Kejuaraan Sepak Bola Euro 2024 dan Olimpiade Paris.
Sementara itu, permintaan di Asia Tenggara melemah, terutama akibat aksi boikot terhadap merek-merek multinasional, termasuk Coca-Cola, sebagai respons terhadap krisis di Timur Tengah. Boikot ini berdampak besar pada penjualan Coca-Cola di Indonesia, yang merupakan salah satu pasar besar bagi perusahaan tersebut.
Meski demikian, Coca-Cola mencatat kenaikan pendapatan sebesar 2,4 persen, mencapai 5,36 miliar Euro (Rp92 triliun) pada kuartal ketiga, dengan kenaikan volume keseluruhan mencapai 19,1 persen. Pendapatan per unit kasus pun tercatat sebesar 5,32 Euro.
Pada Oktober 2024, Coca-Cola sempat memperkirakan penjualan tahunan akan meningkat hingga 10 persen, berkat tingginya permintaan untuk produk soda dan jus premium di Amerika Serikat. Namun, penurunan permintaan di pasar Eropa dan Asia Tenggara, terutama Indonesia, kini menjadi tantangan utama bagi Coca-Cola dalam menjaga pertumbuhan globalnya.[TRA]

