RELUNG.ID – Meski mencatat lonjakan produksi tertinggi di Indonesia, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) masih menghadapi tantangan stabilisasi harga beras. Ironisnya, di tengah keberhasilan pemerintah daerah meningkatkan hasil panen, komoditas beras justru tercatat menjadi penyumbang inflasi terbesar di wilayah tersebut.
Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Investasi Pertanian, Suwandi, mengungkapkan bahwa Sumsel kini menempati posisi kelima sebagai produsen beras nasional. Namun, dibandingkan empat daerah penghasil utama lainnya, kenaikan produksi di Sumsel menjadi yang paling signifikan pada tahun ini.
“Produksi gabah dan beras Sumsel mengalami kenaikan tertinggi sejak Januari hingga November tahun ini,” ujarnya, Jumat (3/10/2025).
Menurut Suwandi, peningkatan produksi ini tak lepas dari percepatan program cetak sawah baru, yang menjadi prioritas pemerintah pusat. Dari target 38.000 hektare, kontrak kerja sama pembukaan lahan telah mencapai 29.884 hektare atau hampir 80%. Dua daerah, yaitu Banyuasin dan Ogan Ilir, disebut akan segera menuntaskan sisa target tersebut.
Gubernur Sumsel Herman Deru menjelaskan, target awal program cetak sawah sebenarnya mencapai 48.000 hektare. Namun, berbagai kendala seperti faktor alam, status lahan, dan kepemilikan tanah membuat target itu disesuaikan menjadi 38.000 hektare.
“Setelah survei dan desain lapangan, luas yang benar-benar bisa dikembangkan jadi sawah adalah 38.000 hektare. Dan progresnya terus jalan,” kata Deru.
Deru juga menyebutkan bahwa produksi gabah kering giling (GKG) Sumsel telah meningkat lebih dari 600.000 ton hingga September, dengan total produksi mencapai 3,5 juta ton—angka tertinggi dalam sejarah pertanian Sumsel.
Namun di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa beras masih memberikan andil inflasi sebesar 0,19% terhadap total inflasi Sumsel yang mencapai 3,44% (yoy) pada September.
Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara peningkatan produksi dan ketersediaan harga terjangkau di pasar. Salah satu faktornya, menurut pengamat ekonomi, adalah distribusi hasil panen yang belum merata serta penyerapan gabah oleh pedagang besar di luar daerah.
Menariknya, dalam kegiatan Misi Dagang dan Investasi yang digelar di akhir September lalu, Sumsel bahkan tercatat sebagai pembeli beras dari Provinsi Jawa Timur. Dari total transaksi senilai Rp1 triliun, sebagian di antaranya adalah pembelian beras dan komoditas pangan lain seperti olahan unggas, ikan beku, dan gula merah tebu.[THQ]

