RELUNG.ID — Program andalan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Makan Bergizi Gratis (MBG), mulai menunjukkan progres signifikan. Meski belum mencapai target penuh, Badan Gizi Nasional (BGN) optimistis capaian tahun ini dapat menembus hingga 70 juta penerima manfaat dari total sasaran 82,9 juta orang.
Kepala BGN Dadan Hindayana menyampaikan, optimisme itu didukung oleh percepatan pembentukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah serta efisiensi penggunaan dana tanpa mengorbankan jangkauan program.
“Kami terus kejar target 82,9 juta penerima. Kalau pun mentok di 70 juta, itu tetap di atas proyeksi awal. Yang penting, efektivitas dan kualitas pelayanan tetap terjaga,” ujar Dadan di sela acara 1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran di Jakarta, Kamis (16/10).
Hingga pertengahan Oktober, realisasi MBG sudah mencapai 35,6 juta penerima atau sekitar 42,9 persen dari target. BGN juga mencatat telah berdiri 12.003 unit SPPG dengan penyerapan anggaran mencapai Rp 27 triliun.
Namun, menariknya, di tengah akselerasi program, BGN justru berencana mengembalikan Rp 70 triliun ke kas negara dari total Rp 100 triliun dana yang disiapkan Presiden untuk MBG tahun ini.
“Kami menghitung kebutuhan riil di lapangan. Dari Rp 100 triliun, kemungkinan terserap sekitar Rp 99 triliun. Artinya, dana negara bisa tetap efisien tanpa mengurangi manfaat bagi masyarakat,” jelas Dadan.
Untuk tahun 2026, BGN sudah disiapkan anggaran jauh lebih besar, yakni Rp 268 triliun dengan cadangan Rp 97 triliun, sehingga total Rp 338 triliun. Angka tersebut mencerminkan skala besar program MBG yang dirancang untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama pelajar dan kelompok rentan.
Dadan menjelaskan, peningkatan jumlah SPPG berbanding lurus dengan penyerapan anggaran dan jumlah penerima manfaat.
“Setiap satu SPPG baru berdiri, anggarannya sekitar Rp 900 juta sampai Rp 1 miliar per bulan. Kalau tiap hari muncul 200 SPPG baru, otomatis penyerapan bertambah Rp 200 miliar per hari,” ujarnya.
Ia menargetkan, dalam sepuluh hari ke depan, nilai serapan akan naik dari Rp 27 triliun menjadi Rp 33 triliun, seiring meningkatnya distribusi makanan bergizi ke berbagai daerah.[THQ]

