Protes terhadap kematian yang dialami Mahsa Amini menyebabkan puluhan jiwa melayang. Menurut Amnesty International, setidaknya 21 orang termasuk tiga anak-anak telah dibunuh oleh pasukan keamanan di Iran.
Salah satu korban diantaranya yakni aktivis perempuan Iran berusia 20 tahun yakni Hadis Najafi, yang dilaporkan telah dibunuh oleh pasukan keamanan Iran selama demontrasi di Kota Karaj, dekat Teheran.
Wartawan Iran Masih Alinejad melaporkan bahwa wanita berusia 20 tahun itu tewas setelah terkena enam peluru di kota Karaj, menurut apa yang dikatakan saudara perempuan Najafi kepadanya. Meski demikian, Wartawan itu, yang tidak merinci tanggal kematian Najafi, menggambarkan berita itu sebagai sesuatu yang memilukan.
“Hadis Najafi, gadis 21 tahun harus menjadi simbol lain seperti #MahsaAmini, karena dia tidak tinggal diam menghadapi tirani. Dia terbunuh karena kejahatan memprotes kematian brutal Mahsa,” kata Alinejad, seperti dilaporkan Newsweek, Senin (26/9).
“Saya menyerukan dunia untuk menjadi suara dari #HadisNajafi juga. Pahlawan sejati,” tulisnya.
Wartawan itu membagikan klip dari pemakaman Najafi dan mengatakan dia adalah gadis yang baik hati dan suka menari.
Seperti diketahui, Mahswa Amini merupakan seorang perempuan yang ditangkap oleh pasukan keamanan Iran karena melanggar aturan hijab. Mahsa Amini ditahan oleh polisi Iran Teheran pada hari Selasa (13/9), lalu meninggal setelah mengalami koma pada hari Jumat (16/9).
Dilansir IranWire, sepuluh dokter menyatakan bahwa foto-foto korban dari rumah sakit menunjukkan tanda-tanda pukulan pada kepala. Mereka menegaskan, stroke pun tidak mungkin menyebabkan pendarahan maupun perubahan pada warna kulit.
“Gambar ini menunjukkan fraktur dasar kulit kepala,” papar seorang dokter.
“Ini termanifestasi sebagai ekimosis (pengumpulan darah di bawah kulit) di sekitar kedua mata, yang disebut ‘mata rakun’, atau pada satu atau kedua telinga. Ini hasil dari trauma parah, seperti kecelakaan atau jatuh dari ketinggian,” lanjutnya.

