RELUNG.ID – Memasuki bulan suci Ramadan, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional III Palembang meningkatkan pengawasan dan patroli di sepanjang jalur rel. Langkah ini dilakukan menyusul meningkatnya aktivitas warga di sekitar rel saat sahur dan menjelang berbuka puasa.
Manager Humas Divre III Palembang, Aida Suryanti, menegaskan Ramadan kerap menjadi periode rawan karena banyak masyarakat memanfaatkan area rel sebagai lokasi berkumpul atau sekadar menunggu waktu berbuka.
“Kereta api tidak bisa berhenti mendadak. Kehadiran masyarakat di jalur rel sangat berisiko dan dapat berakibat fatal,” tegas Aida.
Untuk menekan potensi kecelakaan, KAI menggencarkan patroli bersama aparat TNI dan Polri, terutama di titik-titik yang dinilai rawan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtib). Pengamanan juga difokuskan pada perlintasan sebidang tidak terjaga dengan frekuensi kendaraan tinggi.
Tak hanya itu, menjelang Angkutan Lebaran 2026, inspeksi prasarana dilakukan lebih intensif. Pemeriksaan rel, bantalan, wesel, hingga area Daerah Perhatian Khusus (Dapsus) menjadi prioritas guna memastikan perjalanan kereta tetap aman dan lancar.
KAI juga menyoroti masih adanya oknum yang meletakkan benda asing seperti batu dan kayu di atas rel. Tindakan tersebut bukan sekadar pelanggaran, tetapi berpotensi menyebabkan kerusakan prasarana bahkan anjlokan kereta.
Secara hukum, larangan beraktivitas di ruang manfaat jalur kereta telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian. Pelanggar dapat dikenai pidana penjara maksimal tiga bulan atau denda hingga Rp15 juta.
Selain pendekatan keamanan, KAI tetap mengedepankan edukasi. Sosialisasi digelar di sekolah-sekolah dan lingkungan warga yang bermukim di sekitar rel untuk menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya keselamatan perjalanan kereta api.
“Keselamatan adalah prioritas utama. Kami tidak bisa bekerja sendiri. Perlu dukungan seluruh masyarakat agar perjalanan kereta selama Ramadan hingga Lebaran berlangsung aman,” tutup Aida. (KPB)

