Ratusan hektar sawah milik petani di wilayah Kecamatan Buay Pemuka Peliung, Kabupaten OKU Timur, rusak akibat diserang hama keong dan tikus. Akibatnya, sejumlah petani pun harus melakukan dua kali tanam padi
Purwadi (49), salah satu petani di Desa Pahang Asri, Kecamatan Buay Pemuka Peliung, OKU Timur mengatakan, saat ini sebagian besar petani di desanya mulai melakukan penanaman padi, namun dihadapkan dengan permasalahan hama keong dan tikus
“Di wilayah kita ini saja ada sekitar ratusan hektar sawah yang diserang hama keong dan tikus. Bahkan ada yang sudah dua kali tanam karena tanam pertama habis diserang hama, sehingga dilakukan tanam kembali,” katanya, Selasa (13/12).
Dirinya sangat berharap pihak dinas terkait dapat turun langsung membantu petani membasmi atau setidaknya memberikan edukasi tentang cara menanggulangi serangan hama keong dan tikus.
“Kita sudah menggunakan obat untuk membasmi hama keong, tapi tidak habis juga. Keongnya muncul terus karena dibawa arus air,” keluhnya.
Sementara, Margono (51), menambahkan, selain dihantui serangan hama keong dan tikus, dirinya juga mengeluhkan tentang kelangkaan pupuk yang sejak dulu selalu menjadi permasalahan petani di Kabupaten Lumbung Pangan (OKU Timur).
“Banyak permasalahan yang kami hadapi mas, mulai dari serangan hama sampai masalah kelangkaan pupuk. Kelangkaan pupuk ini seperti candu, selalu terjadi ketika petani memasuki musim tanam, ini sudah terjadi dari sejak dulu dan sampai sekarang belum ada solusinya,” keluhnya.
Untuk itu, dia berharap pemerintah dapat memberikan solusi atau kebijakan yang berpihak kepada petani, agar saat musim tanam pupuk tidak lagi mengalami kelangkaan.
“Kita itu sebagai petani kadang bingung mas, pemerintah katanya mendukung produktivitas petani meningkat tapi kenyataannya pupuk langka, kalau pun ada harganya mahal,” ucapnya.
Menurutnya, bahkan saat ini ada beberapa toko yang menjual pupuk secara paket yakni urea dan pertipos, sehingga petani terpaksa harus mengeluarkan biaya tambahan.
“Jadi kita diwajibkan membeli pupuk secara paket, tidak boleh hanya pupuk urea. Jadi secara otomatis pengeluaran juga bertambah.
Dulu kita hanya beli urea Rp90 ribu, sekarang harus beli satu paket urea dan pertipos Rp390 ribu. Jadi pengeluaran kita juga bertambah. Belum biaya obat hama, pupuk dan operasional lainnya. Semakin sulit mas jadi petani,” pungkasnya.

