RELUNG.ID – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memukul sektor riil di Sumatera Selatan. Dampaknya kini dirasakan langsung para pelaku usaha pertanian dan peternakan, terutama peternak ayam dan telur yang mulai menghadapi penurunan permintaan pengiriman ke luar daerah akibat lonjakan biaya distribusi.
Pengamat Ekonomi Sumsel, Sri Rahayu, mengatakan efek melemahnya rupiah tidak hanya terasa di level industri besar, tetapi sudah merembet hingga pelaku usaha di daerah. Salah satu yang paling terasa ialah meningkatnya ongkos logistik yang membuat pasar luar daerah mulai mengurangi permintaan.
“Beberapa peternak ayam di Palembang sudah mengeluhkan permintaan dari luar mulai menurun karena biaya angkut semakin tinggi,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut bukan terjadi karena kebutuhan masyarakat berkurang, melainkan karena biaya distribusi yang semakin mahal membuat pasar melakukan pembatasan pembelian. Dampak pelemahan rupiah disebut menciptakan efek berantai terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
“Walaupun transaksi sehari-hari memakai rupiah, pelemahan dolar tetap berdampak pada harga barang, distribusi, hingga daya beli masyarakat,” katanya.
Di sisi lain, sektor pertanian justru masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Sumsel. Kepala Bank Indonesia Kantor Wilayah Sumsel, Bambang Pramono, menyebut sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Ia mengungkapkan produksi padi Sumsel sepanjang 2025 mencapai 3,63 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), meningkat dibanding tahun sebelumnya sebesar 2,91 juta ton GKG.
“Kenaikan produksi ini didorong perluasan lahan sawah yang terus dikembangkan pemerintah,” kata Bambang.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Sumsel, luas baku sawah meningkat dari 514 ribu hektare menjadi 579 ribu hektare. Dengan potensi tersebut, Sumsel diyakini mampu meningkatkan produksi hingga 5 juta ton GKG dan berpeluang masuk dua besar lumbung pangan nasional.
Namun di tengah optimisme sektor pangan, dunia usaha tetap dibayangi tekanan kurs dolar. Ketua APINDO Kota Palembang, Gordon Butar Butar, menilai pelemahan rupiah memberi dampak langsung terhadap biaya produksi karena banyak sektor industri masih bergantung pada bahan baku impor.
“Setiap barang pasti akan menyesuaikan harga terbaru. Ini menjadi tekanan bagi pelaku usaha,” ujarnya.
Ia meminta pemerintah pusat maupun daerah segera mengambil langkah konkret menjaga stabilitas rupiah agar beban dunia usaha tidak semakin berat.
“Kami berharap pemerintah segera melakukan intervensi terhadap dampak pelemahan rupiah supaya dunia usaha tetap bisa bertahan,” tandasnya.[THQ]

