RELUNG.ID – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan hebat setelah menembus level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat pagi (15/5/2026). Pelemahan ini memperlihatkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi global yang tengah dibayangi konflik geopolitik dan arus modal asing keluar dari pasar domestik.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.35 WIB, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.606 per dolar AS atau melemah 77 poin dibanding perdagangan sebelumnya.
Pelemahan tersebut melanjutkan tren negatif rupiah dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, mata uang Garuda sempat menyentuh level Rp17.500 sebelum sempat menguat tipis ke kisaran Rp17.475 pada Rabu (13/5/2026).
Analis Global Markets Economist Myrdal Gunarto menilai tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi faktor global dan domestik, terutama aksi jual investor asing di pasar saham Indonesia menjelang pengumuman indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Selain itu, meningkatnya tensi konflik antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz turut memperkuat dolar AS di pasar global. Kondisi tersebut membuat investor cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
“Ketidakpastian global akibat konflik geopolitik membuat permintaan terhadap dolar meningkat,” ujarnya.
Tak hanya faktor eksternal, investor asing juga disebut mulai mengantisipasi momentum libur panjang Kenaikan Yesus Kristus yang berpotensi memengaruhi aktivitas pasar keuangan domestik.
Sementara itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan konflik yang terus memanas di Timur Tengah ikut memicu lonjakan harga minyak dunia dan memperbesar tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Menurut Destry, meningkatnya harga energi global berpotensi memicu ketidakstabilan ekonomi dan meningkatkan kehati-hatian pelaku pasar.
“Konflik di Timur Tengah dengan intensitas yang meningkat mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global,” katanya.
Meski demikian, Bank Indonesia memastikan tetap melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga nilai tukar rupiah agar tidak mengalami gejolak berlebihan.
Intervensi dilakukan melalui pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), hingga Non Deliverable Forward (NDF) guna menjaga keseimbangan suplai dan permintaan valuta asing di pasar.[THQ]

