RELUNG.ID – Pemerintah Rusia menuding Amerika Serikat dan Israel sengaja memicu ketegangan di dunia Islam di tengah bulan suci Ramadan. Tuduhan itu disampaikan setelah serangkaian operasi militer yang melibatkan kedua negara dinilai berpotensi memperparah konflik di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Kementerian Luar Negeri Rusia pada Kamis (5/3), Moskow mengaku sangat prihatin dengan situasi keamanan yang terus memburuk di kawasan tersebut.
Menurut Rusia, tidak ada tanda-tanda bahwa Amerika Serikat dan Israel berupaya menahan diri untuk menghentikan eskalasi kekerasan. Sebaliknya, berbagai pernyataan yang bernada permusuhan terus muncul, disertai operasi militer yang memperluas konflik.
Ketegangan semakin meningkat setelah pasukan AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang bertepatan dengan hari ke-11 Ramadan di kawasan Timur Tengah.
Rusia menilai langkah tersebut sengaja dilakukan untuk memprovokasi Iran agar melakukan serangan balasan, termasuk terhadap fasilitas yang berada di beberapa negara Arab. Situasi itu dikhawatirkan dapat menyeret negara-negara lain ke dalam konflik yang lebih luas.
“Mereka dengan sengaja memprovokasi Iran untuk melakukan serangan balasan terhadap fasilitas di sejumlah negara Arab, yang menyebabkan korban jiwa dan kerusakan materiil,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia.
Selain itu, Rusia menuding langkah tersebut juga bertujuan menarik negara-negara Arab ke dalam konflik yang dinilai hanya menguntungkan pihak tertentu.
Moskow juga menilai eskalasi konflik tersebut berpotensi mengalihkan perhatian dunia internasional dari krisis kemanusiaan yang masih berlangsung di Palestina.
Dalam pernyataannya, Rusia kembali menyerukan kepada seluruh pihak yang terlibat agar segera menghentikan permusuhan, termasuk serangan terhadap wilayah negara-negara Arab di kawasan Teluk.
Rusia juga menegaskan bahwa serangan terhadap warga sipil maupun infrastruktur sipil, baik di Iran maupun di negara-negara kawasan Teluk, tidak dapat dibenarkan.
Menurut Moskow, satu-satunya cara untuk mencegah Timur Tengah semakin terjerumus ke dalam instabilitas adalah dengan menghentikan operasi militer yang memicu eskalasi konflik di kawasan tersebut.[THQ]

