Oleh: Dudy Oskandar
Dalam dunia yang dikungkung oleh kekuasaan kolonial, bahkan hal yang tampak sepele seperti pertandingan sepak bola pun bisa menjadi ajang pertarungan identitas dan kelas. Inilah yang terjadi di Palembang pada tahun 1926, sebagaimana ditulis oleh Kemas Merdika dalam artikel berjudul De Sini dan De Sana Partij yang terbit di koran Kemoedi, 23 Agustus 1926.
Kemas Merdika, melalui gaya satir yang tajam, mengungkap sebuah kenyataan sosial yang menyakitkan: jurang pemisah antara kelompok “sini” (pribumi) dan kelompok “sana” (Eropa) bukan hanya nyata, tetapi dipelihara dengan sangat sistematis oleh sistem kolonial Hindia Belanda. Bahkan dalam kegiatan olahraga—yang sejatinya menjadi ruang persatuan, diskriminasi dan segregasi tetap menjadi norma yang dijaga.
Sepak Bola dan Diskriminasi Kultural
Kisruh antara klub sepak bola pribumi dan Eropa di Palembang kala itu tidak bisa dibaca semata sebagai perselisihan antar-perkumpulan. Ia merupakan cermin ketegangan sosial yang lebih dalam: kelompok Eropa menolak duduk sejajar dengan pribumi, menolak berbagi ruang publik seperti bioskop dan kolam pemandian, dan secara sistematis menjaga jarak sosial bahkan dalam arena yang netral seperti olahraga.
Apa yang dikritik Kemas Merdika sangat jelas: perbedaan perlakuan ini bukanlah akibat sikap eksklusif pribumi, melainkan akibat langsung dari superioritas rasial yang dijaga dengan penuh kesadaran oleh kelompok penguasa kolonial. Ketika pribumi mengusulkan kerja sama, yang didapat hanyalah tatapan curiga. Ketika mereka ingin sekadar duduk bersama, malah diusir. Ketika mereka ingin belajar, pintu sekolah Eropa tertutup rapat.
Lip Service yang Menghancurkan Martabat
Kemas Merdika secara jujur dan tajam menolak ilusi kerja sama yang ditawarkan oleh kelompok Eropa. Baginya, kerja sama yang tidak setara hanya akan memperpanjang ketidakadilan dan memperkuat dominasi. Jika “kerja sama” itu hanya menguntungkan pihak sana dan merugikan pihak sini, maka itu bukanlah kolaborasi, melainkan perbudakan dalam wajah baru.
Apa yang dikatakan Merdika dalam tulisannya terasa relevan hingga hari ini. Dalam politik kolonial, pihak yang berkuasa kerap menggunakan “retorika kerja sama” untuk meredam tuntutan kesetaraan. Pribumi yang menolak tunduk dituduh sebagai “radikal” atau “non-kooperatif”, padahal yang mereka minta hanyalah hak untuk diakui sebagai manusia yang setara. Ketika perbedaan dilanggengkan atas nama stabilitas, maka keadilan pun kehilangan tempat berpijak.
Pendidikan dan Representasi: Pilar yang Dihancurkan
Tulisan Kemas Merdika juga menyentuh persoalan yang lebih luas: keterbatasan akses pendidikan bagi anak-anak pribumi dan minimnya representasi dalam lembaga-lembaga seperti Volksraad dan Gemeenteraad. Di balik konflik sepak bola, tersembunyi kegelisahan kolektif atas nasib masa depan pribumi yang terus dikerdilkan.
Sistem kolonial menciptakan kasta sosial yang tegas: anak-anak Eropa bersekolah di sekolah yang berkualitas, sementara anak-anak pribumi hanya boleh bermimpi dari kejauhan. Di lembaga legislatif pun, suara pribumi dibatasi agar tidak pernah benar-benar berpengaruh. Inilah ironi besar dari kolonialisme: menuntut kerja sama, namun menolak kesetaraan.
Warisan yang Masih Hidup
Hampir seabad telah berlalu sejak tulisan Kemas Merdika itu terbit, namun pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya tetap menggema: Apakah kita benar-benar hidup dalam masyarakat yang setara hari ini? Ataukah warisan “sini” dan “sana” masih kita warisi dalam bentuk baru, entah dalam bentuk kelas sosial, diskriminasi berbasis ekonomi, atau bahkan dalam wacana politik yang memecah?
Kritik Kemas Merdika adalah pengingat bahwa keadilan bukanlah hasil dari kerja sama yang timpang, melainkan dari keberanian untuk menolak dominasi dan membangun hubungan yang saling menghormati. Sepak bola, sekolah, dan parlemen adalah simbol. Yang dipertaruhkan bukan hanya posisi di lapangan, tapi martabat sebagai manusia.
Dan selagi kita belum memastikan bahwa semua anak apa pun latar belakangnya bisa duduk di bangku yang sama, menonton di bioskop yang sama, atau berdiskusi dalam ruang politik yang setara, maka perjuangan dari “sini” belumlah usai. (*)
Penulis adalah jurnalis dan pemerhati sejarah di Sumatera Selatan
