RELUNG.ID – Pemerintah pusat terus berupaya meningkatkan produksi hasil pertanian, khususnya padi, meskipun menghadapi tantangan serius terkait regenerasi petani. Masalah ini telah menjadi perhatian pemerintah, baik pusat maupun daerah, guna menarik minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian.
Langkah ini mendukung visi Sumatera Selatan (Sumsel) sebagai Lumbung Pangan Nasional, dengan strategi optimalisasi lahan rawa (OPLAH) dan program Cetak Sawah Rakyat (CSR). Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan petani muda untuk mewujudkan ketahanan pangan secara berkelanjutan.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel, Bambang Pramono, mengungkapkan bahwa regenerasi petani telah menjadi prioritas sejak beberapa periode pemerintahan. Program ini pernah dikenal dengan nama Pemuda Tani, Petani Milenial, dan kini menjadi Brigade Pangan.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, jumlah petani milenial (usia 25-34 tahun) pada 2023 hanya 14,11 persen, turun dari 18,68 persen pada 2013. Kelompok usia 35-44 tahun juga mengalami penurunan, sementara kelompok usia di atas 45 tahun cenderung meningkat. Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk mengajak anak muda masuk ke sektor pertanian.
Bambang menjelaskan bahwa program Brigade Pangan bertujuan untuk menarik generasi muda, baik yang berasal dari keluarga petani maupun tidak, agar melihat sektor pertanian sebagai peluang masa depan. Peran teknologi diharapkan menjadi daya tarik utama bagi mereka untuk mengelola pertanian secara modern.
“Pertanian harus menjadi pilihan menarik bagi kaum muda, bukan hanya pilihan terakhir. Pemerintah mendukung dengan menyediakan alat dan mesin pertanian, lahan, serta insentif lainnya,” ujar Bambang.
Pemerintah juga memberikan pelatihan, penyuluhan, dan bantuan berupa bibit, pupuk, serta teknologi pertanian modern. Generasi muda didorong untuk membentuk kelompok tani berbasis teknologi yang adaptif terhadap perubahan iklim dan ekosistem.
Sumsel menargetkan peningkatan produksi gabah kering panen (GKP) hingga 3,7 juta ton pada tahun ini, naik dari capaian sebelumnya sebesar 2,94 juta ton. Luas Baku Sawah (LBS) di Sumsel mencapai 519.484 hektare, menjadikannya salah satu provinsi dengan lahan sawah terluas di Indonesia.
Sebagian besar lahan sawah di Sumsel merupakan lahan rawa, yang mencakup sekitar 399 ribu hektare dari total 470 ribu hektare. Keberadaan lahan rawa menjadi keunggulan tersendiri karena mampu menyediakan cadangan air alami, terutama saat musim kemarau.
“Lahan rawa menjadi berkah bagi Sumsel karena memungkinkan produksi padi tetap berjalan meski saat kekeringan,” jelas Bambang.[THQ]

