RELUNG.ID – Meski Sumatera Selatan telah memasuki musim kemarau, hujan dengan intensitas rendah masih turun di sejumlah wilayah, termasuk Kota Palembang. Kepala Stasiun Klimatologi Kelas 1 Sumsel, Wandayantolis, menegaskan bahwa kemarau tidak berarti tanpa hujan sama sekali.
“Musim kemarau ditandai dengan hujan yang jarang, intensitas rendah, dan tidak merata. Jumlah hari tanpa hujan lebih banyak dibanding hari hujan,” jelas Wandayantolis, Jumat (27/6/2025).
Menurut Wandayantolis, hujan yang terjadi beberapa hari terakhir disebabkan oleh perubahan sirkulasi angin dan faktor atmosfer skala kecil, bukan fenomena sistemik atau regional.
“Curah hujan yang tercatat sangat rendah, dengan akumulasi di bawah 50 mm dalam 10 hari, sesuai definisi musim kemarau,” katanya.
Ia juga membantah istilah “kemarau basah” yang sempat beredar di media.
“Tidak ada parameter cuaca atau iklim yang mendukung adanya kemarau basah. Istilah itu mungkin merupakan kesalahan kutipan atau interpretasi,” tegasnya.
Wandayantolis mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), terutama di wilayah barat Musi Rawas Utara (Muratara), Empat Lawang, dan Pagar Alam pada Juli. Sedangkan untuk Agustus hingga September, risiko Karhutla meningkat di Musi Banyuasin (Muba), Banyuasin, Ogan Ilir (OI), hingga Ogan Komering Ilir (OKI).
“Selain Karhutla, kebakaran di permukiman juga perlu diwaspadai karena kondisi kering saat kemarau membuat api lebih mudah menyebar,” tambahnya.
Wandayantolis menjelaskan bahwa tahun ini tidak terdapat potensi La Nina, yang biasanya berperan dalam meningkatkan curah hujan secara luas. Dengan demikian, hujan lokal yang terjadi selama musim kemarau bukan fenomena meluas.
Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi bahaya kebakaran serta memastikan langkah pencegahan kebakaran di lingkungan masing-masing.
“Kemarau bukan berarti tanpa hujan, tetapi tetap perlu kewaspadaan terhadap dampaknya,” pungkas Wandayantolis.

