Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Karhutla Sudah Bikin Malu Bangsa, Asap Indonesia Ganggu Negara Tetangga 

10/10/2026

UIN Raden Fatah Palembang Resmi Buka Prodi Kedokteran, Jadwal Penerimaan Mahasiswa Belum Diumumkan

10/10/2026

Diduga Jadi Sarang Narkoba, Dua Perkampungan di Palembang Digerebek Polisi

10/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Sunday, 11 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Bisnis»Sumsel Sumbang 6,58 Persen CPO Nasional, Siap Topang Implementasi B50
Bisnis

Sumsel Sumbang 6,58 Persen CPO Nasional, Siap Topang Implementasi B50

Eko Prasetyo JayawisudaBy Eko Prasetyo Jayawisuda23/07/2026
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Ilustrasi biodiesel B40. Foto: Dokumen Kementerian ESDM.
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID – Sumatera Selatan (Sumsel) memiliki posisi strategis dalam mendukung pelaksanaan program mandatori B50 yang mulai diberlakukan secara efektif pada 1 Juli 2026. Sebagai provinsi penghasil kelapa sawit terbesar kelima di Indonesia, Sumsel menyumbang sekitar 6,58 persen produksi crude palm oil (CPO) nasional.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan Sumsel, M. Ichwansyah, mengatakan kapasitas produksi tersebut menjadi modal penting untuk memasok kebutuhan biodiesel berbasis minyak sawit dalam implementasi B50.

Saat ini, Sumsel memiliki 109 pabrik kelapa sawit (PKS) dengan kapasitas olah gabungan mencapai 4.815 ton tandan buah segar (TBS) per jam. Dari kapasitas tersebut, produksi CPO daerah diperkirakan mencapai 3,39 juta ton setiap tahun.

“Kondisi ini menjadi modal penting bagi Sumsel untuk mendukung implementasi kebijakan mandatori B50 yang telah berlaku efektif sejak 1 Juli 2026,” ujar Ichwansyah.

Berdasarkan data Dinas Perkebunan, luas perkebunan kelapa sawit di Sumsel mencapai 1,24 juta hektare, dengan sekitar 986 ribu hektare atau 77 persen di antaranya telah memasuki fase tanaman menghasilkan.

Meski memiliki potensi besar, Ichwansyah mengakui produktivitas kebun sawit di Sumsel masih jauh dari optimal. Saat ini rata-rata produksi kebun hanya mencapai 15 ton TBS per hektare per tahun, sementara potensi maksimalnya dapat mencapai 25 ton per hektare.

Artinya, produktivitas kebun baru menyentuh sekitar 60 persen dari potensi yang seharusnya bisa dicapai.

Menurutnya, rendahnya produktivitas dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pemupukan yang belum sesuai rekomendasi, teknik panen yang belum memenuhi standar kematangan buah, hingga penerapan Good Agricultural Practices (GAP) yang belum optimal di tingkat pekebun.

Selain itu, banyak tanaman sawit yang telah memasuki usia tua, mengalami kerusakan, maupun belum diremajakan sehingga produksi terus mengalami penurunan.

“Kondisi ini menjadi tantangan utama yang harus segera diatasi agar produktivitas meningkat, pasokan bahan baku CPO tetap terjaga, dan Sumsel benar-benar siap mendukung implementasi B50,” jelasnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemprov Sumsel terus menggenjot Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Sejak 2017 hingga 2025, program tersebut telah merealisasikan peremajaan seluas 75.016 hektare melalui 208 rekomendasi teknis yang melibatkan 30.882 pekebun.

Pada 2026, program PSR kembali dilanjutkan dengan target 3.600 hektare di delapan kabupaten sentra perkebunan sawit.

Namun, angka tersebut masih jauh di bawah kebutuhan peremajaan. Dinas Perkebunan mencatat luas tanaman tua dan rusak di Sumsel masih mencapai sekitar 24.014 hektare, sehingga percepatan PSR menjadi salah satu agenda prioritas.

Ichwansyah menilai keberhasilan program peremajaan akan menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan industri sawit Sumsel sekaligus memastikan pasokan bahan baku biodiesel tetap tersedia untuk mendukung kebijakan transisi energi nasional melalui implementasi B50.[THQ]

B50 CPO Sumsel
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleRatu Dewa Ungkap Alasan Prima Salam Absen dari Agenda Pemkot, Ternyata Sedang Umrah
Next Article Dilantik Pimpin BGN, Sudaryono Pastikan Tak Lagi Jadi Wamentan
Eko Prasetyo Jayawisuda

Related Posts

Regional

Pelaku Perampokan Mahasiswa di Muratara Ditangkap, Modusnya Berhentikan Mobil Korban

08/10/20264 Views
Regional

Sumsel Masih Berasap, Hujan Ringan Berpotensi Turun di Tiga Wilayah

06/10/20266 Views
Regional

Karhutla Sumatra-Kalimantan Disorot Leonardo DiCaprio

05/10/20265 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202328,873 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202428,744 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202522,719 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,359 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?