RELUNG.ID – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mulai mengantisipasi ancaman ledakan hama tikus yang berpotensi mengganggu produksi padi pada musim tanam kedua 2026. Salah satu langkah utama yang didorong yakni penerapan pola tanam serentak di seluruh sentra pertanian.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel, Bambang Pramono, mengatakan serangan tikus selama ini banyak dipicu pola tanam petani yang tidak bersamaan dalam satu hamparan sawah.
Akibatnya, tanaman padi yang lebih dulu tumbuh menjadi sasaran utama hama dan mengalami kerusakan sebelum memasuki masa panen.
“Kalau tanamnya tidak serentak, tanaman yang lebih awal tumbuh akan habis diserang tikus. Ini yang sering terjadi di kawasan pasang surut maupun rawa lebak,” ujarnya, Senin (25/5/2026).
Menurut Bambang, petani di wilayah pasang surut umumnya baru memulai musim tanam kedua pada April hingga Mei setelah panen pertama selesai pada Oktober hingga Maret. Namun pola tanam yang sporadis membuat populasi tikus berkembang lebih cepat menjelang musim panen Juni hingga Juli.
Kondisi tersebut dinilai berisiko mengancam target produksi padi Sumsel yang tahun ini dipatok mencapai 4 juta ton gabah kering giling (GKG).
Untuk mencegah kerugian lebih besar, Pemprov Sumsel menggencarkan program Gerakan Tanam Menyongsong El Nino yang dilaksanakan serentak di 17 kabupaten dan kota sejak 19 Mei 2026.
Melalui program itu, pemerintah menyalurkan bantuan berupa benih padi, pupuk, pompa air hingga alat dan mesin pertanian guna mempercepat proses tanam di kawasan rawa maupun lahan cetak sawah baru.
Selain percepatan tanam, pemerintah juga menyiapkan langkah pengendalian hama tikus bersama Kementerian Pertanian melalui pemantauan rutin oleh UPTD pertanian di daerah.
“Kami juga akan melakukan gerakan pengendalian tikus bersama agar serangan hama tidak berkembang menjadi endemi saat memasuki musim panen nanti,” kata Bambang.
Pemprov Sumsel optimistis target luas tanam hingga September 2026 dapat mencapai 500 ribu hektare. Target tersebut sekaligus menjadi upaya menjaga posisi Sumsel sebagai salah satu daerah lumbung pangan nasional.
Pada 2025 lalu, produksi padi Sumsel tercatat mencapai sekitar 3,6 juta ton GKG. Tahun ini pemerintah berharap hasil produksi bisa meningkat seiring perluasan lahan tanam dan percepatan musim tanam.[THQ]

