RELUNG.ID – Angin segar berembus bagi petani karet Sumatera Selatan. Awal pekan ini, harga karet global kembali menunjukkan tren penguatan seiring kebijakan pembebasan tarif ekspor ke Amerika Serikat sebesar nol persen untuk sejumlah komoditas, termasuk karet.
Kebijakan tersebut dinilai menjadi momentum strategis untuk memperluas pasar dan mendongkrak daya saing karet Indonesia di pasar internasional, khususnya Amerika Serikat.
Sekretaris DPW Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Sumsel, Rudi Arpian, mengatakan tarif nol persen membuka ruang besar bagi peningkatan ekspor, terutama dari daerah penghasil utama seperti Sumsel.
“Dengan tarif nol persen, produk karet Indonesia tentu lebih kompetitif di pasar AS. Peluang peningkatan volume ekspor sangat terbuka dan ini berpotensi berdampak langsung pada pendapatan petani maupun eksportir,” ujarnya, Senin (23/2/2026).
Berdasarkan data perdagangan di Singapore Exchange (SGX) dan Sicom, harga karet pada Senin tercatat sebesar 194,4 sen dolar AS per kilogram. Dengan kurs Rp16.801 per dolar AS, harga Karet Kering (KKK) 100 persen menyentuh Rp32.661 per kilogram—naik Rp210 dibandingkan harga pada Jumat (20/2/2026) yang berada di level Rp32.451 per kilogram.
Kenaikan ini memperkuat tren stabil yang terjaga sejak akhir pekan lalu dan memberi harapan baru bagi petani di tengah fluktuasi harga global dalam beberapa bulan terakhir.
Meski demikian, Rudi mengingatkan bahwa peluang ekspor tidak serta-merta bisa dimaksimalkan tanpa kesiapan dari sisi kualitas dan kapasitas produksi. Persaingan dengan negara produsen karet lainnya tetap menjadi tantangan yang harus diantisipasi.
“Kualitas produk, konsistensi pasokan, serta kemampuan produksi harus dijaga. Kita bersaing dengan negara lain, jadi tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan tarif,” jelasnya.
Dalam jangka pendek, pembebasan tarif dinilai mampu mendorong peningkatan pendapatan petani dan pelaku ekspor. Namun untuk jangka panjang, Apkarindo mendorong percepatan hilirisasi industri karet di daerah.
Menurut Rudi, ketergantungan pada ekspor bahan mentah perlu dikurangi dengan memperkuat sektor pengolahan, sehingga karet asal Sumsel dapat dipasarkan dalam bentuk produk jadi bernilai tambah tinggi.
“Kebijakan ini sangat menguntungkan. Tapi ke depan, kita harus perkuat hilirisasi agar tidak hanya menjual bahan mentah. Dengan produk olahan, nilai tambah meningkat dan kesejahteraan petani pun lebih terjamin,” tegasnya.[THQ]

