RELUNG.ID – Keputusan mantan Presiden AS, Donald Trump, yang kembali ke tampuk kekuasaan dan menetapkan tarif impor sebesar 19% untuk produk asal Indonesia dinilai berpotensi menekan laju ekonomi Sumatera Selatan (Sumsel). Sebagai provinsi yang menganut sistem ekonomi terbuka, Sumsel dinilai rentan terhadap gejolak eksternal, khususnya kebijakan proteksionis seperti yang diterapkan AS.
Pengamat ekonomi Universitas Sriwijaya, Sukanto, mengatakan bahwa kenaikan tarif tersebut secara langsung akan menurunkan daya saing ekspor Sumsel, terutama ke pasar Amerika Serikat. Dampaknya tidak hanya terbatas pada penurunan permintaan, namun juga bisa melemahkan kinerja sektor-sektor strategis di daerah.
“Harga jual produk menjadi tidak kompetitif. Jika permintaan dari AS turun, maka ekspor Sumsel pun terdampak. Kinerja sektoral seperti industri pengolahan karet atau minyak nabati bisa ikut tertekan,” ujar Sukanto saat diwawancarai Bisnis, Kamis (17/7/2025).
Sejumlah komoditas unggulan Sumsel yang selama ini dikirim ke pasar AS antara lain karet dan produk turunannya, bahan bakar mineral, bubur kertas, serta minyak dan lemak nabati. Menurut Sukanto, dalam lima tahun terakhir ekspor menyumbang sekitar 16% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumsel, dengan ekspor ke AS mencakup 5,5% dari total ekspor tersebut.
“Kalau dihitung secara kasar, potensi dampaknya terhadap ekonomi Sumsel bisa mencapai 0,9%. Meski tampak kecil, namun imbasnya bisa meluas,” jelasnya.
Lebih jauh, Sukanto memperingatkan bahwa kebijakan tarif tinggi AS bisa memicu inflasi di negara tersebut karena keterbatasan produk impor, khususnya dari Tiongkok. Kondisi ini bisa mendorong Tiongkok memperluas pasar ekspornya ke negara-negara lain, termasuk Indonesia.
“Jika produk Tiongkok masuk besar-besaran ke pasar domestik dengan harga murah, industri dalam negeri akan kesulitan bersaing. Dalam jangka menengah, ini bisa menyebabkan kebangkrutan usaha lokal dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK),” ujarnya.
Untuk meredam potensi guncangan, Sukanto mendorong pemerintah daerah dan pusat agar segera melakukan langkah antisipatif. Ia menyarankan agar ekspor Sumsel tidak lagi terlalu bergantung pada pasar tradisional seperti AS, dan mulai membuka peluang ke kawasan lain.
“Negara-negara BRICS dan Uni Eropa bisa jadi alternatif. Selain itu, perkuat juga integrasi ekonomi di kawasan ASEAN,” tambahnya.
Tak kalah penting, menurut Sukanto, adalah deregulasi dan pemangkasan ekonomi biaya tinggi agar produk dalam negeri semakin kompetitif dan tidak kalah saing dari barang impor.
“Daya saing kita harus ditingkatkan dari sisi biaya produksi dan efisiensi. Itu kunci agar kita bisa bertahan dalam tekanan global,” pungkasnya.
Dengan berbagai tantangan global yang mengintai, sinergi lintas sektor dan langkah strategis dari pemerintah menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi Sumsel di tengah dinamika geopolitik internasional.

