RELUNG.ID- Kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) kembali memburuk akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Sumsel, Jumat (2/10/2026) pukul 06.00 WIB, dari sembilan wilayah yang terpantau, tiga daerah masuk kategori Berbahaya.
Ketiga wilayah tersebut yakni Palembang, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), dan Ogan Ilir. Sementara tiga wilayah berada pada kategori Sangat Tidak Sehat, dua wilayah Tidak Sehat, dan satu wilayah kategori Baik.
Palembang menjadi wilayah dengan kualitas udara terburuk dalam pemantauan DLHP Sumsel.
Pada pukul 06.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di Palembang tercatat 442 mikrogram per meter kubik (µg/m³), sedangkan PM10 mencapai 796 µg/m³.
Kondisi tersebut kemudian kembali memburuk. Berdasarkan pemantauan pukul 09.00 WIB, nilai ISPU Palembang disebut mencapai 890, dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 463 µg/m³ dan PM10 mencapai 890 µg/m³.
Sementara itu, PALI mencatat konsentrasi PM2.5 sebesar 363 µg/m³ dan PM10 sebesar 362 µg/m³. Sedangkan Ogan Ilir mencatat PM2.5 sebesar 332 µg/m³ dan PM10 sebesar 202 µg/m³.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis mengatakan kondisi udara Palembang memang kembali memburuk sejak dini hari.
Menurutnya, berdasarkan pemantauan Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang, konsentrasi PM2.5 bahkan sempat mencapai 652,7 µg/m³ pada pukul 05.00 WIB.
“Pagi ini kualitas udara Palembang kembali memburuk. Kategorinya tercatat pada level berbahaya. Angka tertinggi tercatat di Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang sebesar 652,7 µg/m³,” kata Wandayantolis, Jumat (2/10/2026).
Ia menjelaskan, peningkatan konsentrasi PM2.5 terjadi sejak dini hari. Pada pukul 03.00 WIB, angkanya mencapai 590,5 µg/m³, kemudian naik menjadi 630,1 µg/m³ pada pukul 04.00 WIB sebelum mencapai puncak pada pukul 05.00 WIB.
Selain Palembang, PALI dan Ogan Ilir juga berada pada kategori Berbahaya.
Kemudian Prabumulih mencatat PM2.5 sebesar 240 µg/m³ dan PM10 144 µg/m³. Banyuasin mencatat PM2.5 sebesar 213 µg/m³, sedangkan Lahat memiliki PM2.5 sebesar 206 µg/m³ dan PM10 134 µg/m³.
Ketiga daerah tersebut masuk kategori Sangat Tidak Sehat.
Sementara Musi Banyuasin dan Musi Rawas berada pada kategori Tidak Sehat. Adapun Muara Enim menjadi satu-satunya wilayah dalam pemantauan tersebut yang berada pada kategori Baik, dengan ISPU 6.
Memburuknya kualitas udara tersebut terjadi di tengah masih berlangsungnya karhutla di sejumlah wilayah Sumsel. Data pemantauan lain pada Jumat pagi juga menunjukkan kabut asap masih menyelimuti Palembang.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko paparan partikulat bagi masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil serta warga yang memiliki gangguan pernapasan.
Wandayantolis sebelumnya mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Jika harus beraktivitas di luar, masyarakat disarankan menggunakan perlindungan seperti masker.
“Kondisi kualitas udara masih perlu menjadi perhatian, terutama bagi kelompok masyarakat yang sensitif terhadap pencemaran udara. Masyarakat dapat mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara memburuk dan selalu menggunakan masker,” pungkasnya. [DSK]

