RELUNG.ID — Tingginya aktivitas ekonomi selama bulan Ramadan dan menjelang Idul Fitri menjadi celah bagi oknum pembuat dan pengedar uang rupiah palsu.
Menurut Bank Indonesia (BI), peredaran uang palsu bahkan telah merambah ke media sosial.
Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI, Marlison Hakim, mengungkapkan bahwa BI telah berkolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk memberantas konten uang palsu di media sosial. Langkah ini dinilai efektif dalam mengurangi penjualan uang palsu.
“BI melalui Badan Koordinasi Pemberantasan Rupiah Palsu (BOTASUPAL) telah berkerja sama dengan Kominfo untuk men-takedown penjualan uang palsu melalui media sosial. Sejauh ini, penjualan uang palsu di medsos sudah sangat berkurang,” ujarnya, Ahad (24/3/2024).
Selain itu, BI juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan terhadap keaslian uang rupiah. Hal ini dianggap penting untuk membentengi masyarakat dari peredaran uang palsu.
“Menjadi penting bagi seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dalam bertransaksi serta memiliki pemahaman yang baik dalam mengenali spesifikasi, kualitas, dan ciri-ciri keaslian uang rupiah melalui metode 3D (Dilihat, Diraba, dan Diterawang),” tambahnya.
Berikut adalah langkah-langkah yang telah diambil oleh BI untuk mengantisipasi peredaran uang palsu:
1. Penguatan unsur pengaman uang rupiah seperti benang pengaman dan Optically Variable Magnetic Ink (OVMI).
2. Peningkatan pengetahuan dan pemahaman masyarakat melalui program edukasi Cinta Bangga Paham Rupiah.
3. Koordinasi aktif dengan BOTASUPAL dalam menyusun strategi penanggulangan uang palsu.
4. Penyediaan sistem informasi kepada masyarakat, perbankan, dan PJPUR dalam melakukan pelaporan klarifikasi uang rupiah yang diragukan keasliannya.
Menurut Marlison, metode 3D sangat ampuh dalam membedakan uang asli dan palsu. Berikut adalah cara identifikasi uang rupiah dengan metode 3D:
1. Dilihat
OVMI yang berubah warna dan sinar yang bergerak, serta benang pengaman dengan efek gerak dinamis.
2. Diraba
Bagian gambar utama, angka nominal, dan tulisan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terasa kasar.
3. Diterawang
Watermark, electrotype, dan rectoverso yang menyatu secara utuh saat diterawangkan ke arah cahaya.
Dengan meningkatnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat terhadap cara identifikasi uang rupiah, diharapkan penyebaran uang palsu dapat dicegah secara efektif.

