RELUNG.ID – Keselamatan sopir truk pengangkut batubara di kawasan Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim kini terancam.
Pasalnya, para sopir ini terus menjadi korban pelemparan oleh Orang Tak Dikenal (OTK).
Bahkan, pelemparan ini terjadi sejak pertengahan Juni lalu hingga saat ini
Baca Juga: Ini Penyebab Badan Big Mom Gendut di One Piece
Salah satu sopir truk, Yanto mengaku, pihaknya telah beroperasi sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
Bahkan, pihaknya melintas di malam hari di lokasi. Tetap saja, selalu menjadi korban pelemparan.
“Aksi pelemparan ini bukan hanya merusak kaca kendaraan tapi juga menimbulkan korban,” katanya.
Baca Juga: Rentetan Kematian kru Bajak Laut Edward Newgate yang Tragis di One Piece
Bahkan, salah satu sopir terpaksa harus mendapatkan perawatan intensif dari rumah sakit.
Pihaknya juga mengaku telah melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib, hanya saja belum ada penangkapan terhadap para pelaku.
“Kami sangat berharap agar para pelaku ini ditangkap dan diberikan efek jeras sehingga kami bekerja dapat terjamin,” harapnya.
Baca Juga: Sumsel Ditunjuk Jadi Provinsi Penyangga Pangan Nasional, Ini Alasannya
Yanto menambahkan, dirinya sejak dua tahun terakhir menjadi sopir truk pengangkut batubara. Hal ini untuk mengihupi istri dan empat anaknya.
Karena itu, dia pun mau tidak mau terus berhadapan dengan preman karena pungli. Bahkan, kali ini dilempari oleh OTK.
“Mereka ini melempar batu tepat dititik buta bagi pengemudi. Biasanya lokasinya yang gelap tidak ada penerangan jalan,” ujarnya.
Baca Juga: Ini Momen Izo Buang Pedang demi Pistol di manga One Piece
Hal senada diungkapkan, sopir truk lainnya, Ruli (35). Dia mengaku, aksi kejahatan kepada sopir ini biasanya terjadi di lokasi yang minim penerangan dan masyarakat.
Terlebih, setelah kejadian ini dilaporkan ke pihak berwajib, belum ada respons yang signifikan yang bisa memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi para sopir truk batubara ini.
“Kami sebagai sopir terus was-was dan tidak tenang dalam bekerja akibat peristiwa pelemparan ini,” katanya.
Baca Juga: Kenapa Im Sama Harus Siluet di One Piece
Bahkan, dia bersama rekan sopir memilih untuk menunggu di pool jika ada salah satu sopir yang diserang, dan kembali melanjutkan perjalanan saat sudah kembali tenang.
“Kadang kami juga melanjutkan perjalaan jika jalan sudah benar-benar sepi,” jelasnya.
Hal ini tentunya berimbas kepada target ritase perjalanan sering tak tercapai, hingga akhirnya pendapatan mereka juga ikut menurun.
Baca Juga: Mulai Debut 19 Juli Mendatang, Berikut Spesifikasi Realme Pad 2
Dia menjelaskan, biasanya dalam sebulan paling sedikit jumlah ritase yaitu 25 kali. Namun, saat ini hanya 20 ritase.
“Itupun kalau beruntung, karena waktu perjalanan malam hari sudah diperpendek,” terangnya.
Dengan menurunnya jumlah ritase ini tentunya berpengaruh terhadap penurunan pendapatan mereka.
Baca Juga: Cari Ikan di Perairan Cilacap, Dua Petani Malah Temukan Ribuan Amunisi
“Ini sangat mengancam jiwa dan keselamatan kami maupun pengendara lainnya,” tutupnya.
Terpisah, Pemerhati Sosial dari Yayasan Green Invite Sembilan, Sigit Raharjo mengaku miris melihat kondisi tersebut.
Dia menyayangkan dengan adanya pelemparan batu yang dilakukan oknum masyarakat.
Baca Juga: Drakor ‘The Trunk’, Perjalanan Cinta Gong Yoo dan Seo Hyun Jin Melalui Biro Jodoh
“Sopir hanya bekerja, terlepas dari apapun pemicunya, mereka pekerja yang dilindungi, mudah-mudahan bisa tertangkap dan lebih aman semua bisa berjalan lancar,” katanya.
Selain mengancam jiwa para sopir, dampak yang diakibatkan pelemparan ini yaitu pengiriman dan penjualan batubara dari wilayah Muara Enim itu sendiri.
Hal ini tentunya menimbulkan efek lain diantaranya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Baca Juga: HP Infinix GT 10 Pro Bakal Debut Awal Agustus
Tak hanya itu, Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Muara Enim pun dapat menurun jika angka kriminalitas ini meningkat.
“Solusinya yaitu segera wujudkan pembuatan jalan khusus batubara, dan seluruh pemegang IUP harus kompak mewujudkan hal ini,” pungkasnya.

