RELUNG.ID – Serikat pekerja otomotif Amerika Serikat, United Auto Workers (UAW), memperingatkan bahwa penerapan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan robotika di industri otomotif berpotensi mengancam lapangan kerja jika keuntungan dari teknologi tersebut hanya dinikmati perusahaan.
Dalam Konvensi Konstitusional UAW yang digelar di Detroit, Presiden UAW Shawn Fain menegaskan bahwa perkembangan AI dan robot kolaboratif (collaborative robots/cobots) menjadi isu penting yang harus diantisipasi.
Menurutnya, kekhawatiran utama bukan terletak pada penggunaan teknologi, melainkan pada pembagian manfaat yang dihasilkan dari peningkatan produktivitas.
“Jika teknologi mampu meningkatkan produktivitas perusahaan, maka para pekerja juga harus memperoleh bagian dari manfaat tersebut, bukan justru kehilangan pekerjaan,” tegas Fain, seperti dikutip The Detroit News.
Menurut UAW, peningkatan efisiensi melalui otomatisasi seharusnya dapat memberikan keuntungan bagi semua pihak, mulai dari perusahaan, konsumen, hingga pekerja.
Serikat pekerja menilai produktivitas yang meningkat semestinya diikuti dengan peningkatan kesejahteraan karyawan, baik dalam bentuk upah yang lebih baik maupun pengurangan jam kerja.
Di sisi lain, produsen otomotif menilai pemanfaatan AI dan robotika menjadi kebutuhan untuk menghadapi persaingan global yang semakin ketat, terutama dari produsen kendaraan asal Tiongkok yang berkembang pesat.
Teknologi dinilai mampu meningkatkan efisiensi produksi, menjaga kualitas produk, sekaligus menekan biaya operasional.
Salah satu contoh datang dari General Motors (GM). Perusahaan tersebut mengungkapkan bahwa sekitar 50 robot kolaboratif telah dioperasikan di pabrik Factory ZERO di Detroit untuk membantu meningkatkan keselamatan kerja, fleksibilitas, dan efisiensi proses produksi.
Meski demikian, GM juga diketahui telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari 1.000 karyawan yang berkaitan dengan produksi kendaraan listrik, sehingga memunculkan sorotan dari kalangan pekerja.
Selain GM, sejumlah produsen otomotif besar seperti Hyundai, Nissan, Ford, Honda, dan Stellantis juga terus memperluas penggunaan robot dan sistem otomatisasi dalam proses manufaktur.
Kondisi tersebut membuat perdebatan mengenai AI di industri otomotif bergeser dari sekadar persoalan adopsi teknologi menjadi pembahasan mengenai bagaimana manfaat ekonomi dari otomatisasi dapat dibagikan secara adil.
Kalangan produsen otomotif berpendapat bahwa peningkatan produktivitas merupakan kunci menjaga daya saing perusahaan dan keberlanjutan investasi.
Sementara itu, UAW menegaskan bahwa transformasi teknologi harus tetap menjamin perlindungan terhadap tenaga kerja agar kemajuan industri tidak dibayar dengan hilangnya lapangan pekerjaan. (LWM)

