RELUNG.ID – Dugaan kelalaian tenaga kesehatan (Nakes) di Muratara mendadak viral.
Kasus tersebut menjadi sorotan usai curhatan seorang suami LK melalui unggahannya media sosial beberapa waktu lalu.
LK menuliskan jika istri dan calon anaknya meninggal dunia diduga akibat kelalaian Puskesmas Pauh di Muratara, Sumsel.
Baca Juga: Ririsa Miyazaki Jadi Naru Kotoishi di Live Action Barakamon
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Sumsel, Herman Deru mengatakan Pemprov bersama Pemkab setempat akan terus memonitoring dugaan kasus tersebut.
Menurutnya, nakes juga manusia biasa sehingga ada keterbatasan. Selain itu, hingga saat ini semua pihak hanya menerima informasi dari sebelum pihak (korban) saja.
“Karena itu, kami akan menurunkan tim untuk melakukan investigasi kasus tersebut,” katanya.
Baca Juga: Bakar Lahan Setengah Hektare, Mantan Kades di Sumsel Terancam Pidana 10 Tahun
Tim investigasi ini sendiri Ketuanya Dirut RSMH, Wakil ketua Direktur RS Fatimah, Inspektorat, Biro Pemerintahan dan Hukum serta bekerja sama dengan Kabupaten setempat yaitu Muratara. Pihaknya menargetkan agar investigasi ini selesai dalam waktu seminggu.
“Kalau memang terbukti ada kelalaian tentu akan diberikan sanksi administrasi, jika investigas ini telah selesai dilakukan,” terangnya.
Meski demikian, dia meminta semua pihak untuk tetap berimbang. Serta menjaga hati para nakes yang telah bertugas tidak kenal jam, dan tempat ini.
Baca Juga: Bawa Kemampuan Pengisian Daya Cepat, Ini Spesifikasi Samsung Galaxy Tab S9+ dan S9 Ultra
Berdasarkan informasi yang didapatkannya, korban secara rutin melakukan pemeriksaan di Puskesmas tersebut.
Namun dikarenakan bayinya besar, sedangkan tubuh korban kecil hanya 150 cm maka terjadi ketidak seimbangan. Nakes pun telah menyarankan korban untuk ke RS
“Tapi kita akan melakukan investigasi dan akan kita dengan secara komprehensif,” tegasnya.
Baca Juga: Pasca Penayangan Anime, Penjualan Komik Blue Lock Terjual Hingga 8 Juta salinan
Dia juga meminta Bupati untuk agar tidak memandang individu tertentu hingga membuat nama nakes tercoreng. Karena itu, semua pihak harus menunggu hasil monitoringnya.
“Saya minta pak Bupati untuk menindaklanjuti jika ada pelayanan apapun yang tidak optimal dalam melayani masyarakat,”pungkasnya.
Sementara itu, Bupati Muratara, Devi Suhartoni menambahkan, sejak awal pihaknya telah meminta para nakes untuk meningkatkan pelayanan dan keramahan.
Baca Juga: Penting! Ini Bahaya Gunakan Pakaian Ketat
Terkait kasus tersebut, dirinya sengaja datang ke Pemprov Sumsel untuk melapor kepada Gubernur Sumsel.
“Muratara ini bagian dari Sumsel. Jadi saya lapor ke Gubernur untuk meminta arahannya,” katanya.
Sejauh ini, dia mengaku tidak ada proses hukum terkait kasus dugaan kelalaian nakes ini. Terlebih lagi, dari informasi nakes telah melakukan perawatan.
Baca Juga: Mata Ikan Bikin Malu! 4 Bahan Alami ini Bisa Atasinya
Nakes pun telah memberi tahu korban, jika memiliki resiko tinggi, sedangkan alat di Puskesmas Pauh tidak ada, sehingga lebih baik ke RS.
“Kalau dari investigasi ada kelalaian maka akan diberikan hukuman. Jadi kita tunggu hasil investigasinya apakah ada kelalaian atau bagaimana. Saat ini, nakesnya juga masih bekerja dan pihaknya telah melakukan mediasi dengan pihak keluarga,” pungkasnya.
Sebelumnya, seorang pria, LK menuangkan curhatannya ke media sosial. Tulisan curahan hati itu pun diposting ulang oleh akun instagram @palembang_bedesau.id, Senin (29/5).
Baca Juga: 4 Manfaat Kuning Telur Baik untuk Kesehatan Rambut
Dalam akun IG tersebut, LK menerangkan secara jelas kronologis kejadian hingga istrinya, TK, meninggal dunia. Cerita itu ia tulis dalam bahasa daerah.
“Min tolong viralkan ataupun bagikan, supayo di liat pemerintah daerah supaya ado tindak lanjutnyo,” tulisnya.
Dia menceritakan, istrinya akan melahirkan dan dibawa ke Puskesmas Pauh, Muratara, Sumsel, Selasa (9/5) sekitar pukul 22.00 WIB.
Baca Juga: Talas Sumber Nutrisi Cocok untuk Kesehatan Ibu Hamil
Pukul 01.30 WIB, ketuban pecah namum hingga pukul 03.00 WIB belum juga melahirkan. Beberapa menit kemudian, mereka ditinggal bidan puskesmas untuk tidur. Otomatis mereka tidak didampingi seorang pun tenaga kesehatan di ruang bersalin.
Pria itu kesal dengan sikap bidan tersebut lalu mengedor pintu ruang bidan yang tidur untuk menanyakan tindakan yang harus dilakukan karena kondisi istrinya sudah lemah.
“Awak marah, awak gedur lawang. Awak bicara sama bidan (Saya marah, saya gedor pintu dan bicara sama bidan. Apa kamu tidak mau mengurus, apa tidak mau bikin surat rujukan karena Tika mulai lemah),” tulisnya.
Baca Juga: Udang Bagus untuk Kesehatan Ibu Hamil
Kemudian bidan keluar dan bicara dengan mertua LK di ruang bersalin. Mereka tersinggung dengan ucapan LK barusan sehingga bidan itu mengusir mertuanya dengan kata-kata kasar.
“Pas nak masok lagi takunci pintu, ngapo bidan ngunci pintu dakte kuargo yang nemani TK di dalam dakte utak nian bidan puskesmas pauh jangan mentang2 mereka bidan jangan sakendak kenda mereka.” tambahnya
(Waktu mau masuk pintu sudah terkunci, kenapa bidan mengunci pintu, tidak ada keluarga yang menemai Tika di dalam. Tidak ada otak/pikiran bidan Puskesmas Pauh, jangan mentang-mentang mereka bidan maunya sendiri).
Baca Juga: 4 Fakta Raja Wapol, Penyelamat Vivi
Empat jam setelah ketuban pecah atau pukul 05.00 WIB, bidan barulah merujuk istrinya ke RS Ar Bunda Lubuklinggau. Namun, istri dan calon bayi pertamanya tak bisa diselamatkan tak lama setelah tiba di rumah sakit.
Kejadian itu membuat LK kecewa berat. Dia menyayangkan kelalaian bidan membuat dua nyawa yang disayanginya pergi untuk selamanya.
Padahal, hal itu bisa dicegah jika bidan segera mengambil tindakan untuk merujuk ke rumah sakit. Lebih kecewanya lagi, saat istrinya berjuang justru ditinggal tidur oleh bidan yang mengaku mengantuk.
Baca Juga: Pangkalan Udara Sri Mulyono Herlambang Jadi Homebase Pesawat Tempur
“Kejadian ko sebuah kelalaian bidan puskesmas. Memang ajal dakte yang tau tapi perawatan bidan tu muat idak puas. Allah tulah yang tau.” demikian tulisannya.

