RELUNG.ID— Organisasi lingkungan WALHI Sumatera Selatan bersama beberapa organisasi mahasiswa menyerukan tindakan segera dari Pemprov Sumsel untuk mengatasi bencana ekologis yang semakin sering terjadi.
Seruan ini disampaikan terkait dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang ke-52, serta melihat maraknya kejadian banjir dan longsor yang melanda wilayah Sumsel
“Sejak awal tahun hingga 5 Juni 2024, tercatat 77 kali kejadian banjir dan longsor di 9 kabupaten/kota, mengakibatkan 8 orang meninggal dan ribuan lainnya menderita serta mengungsi,” ujar, Kepala Divisi Kampanye Febrian Putra Sopah, Jumat 7 Juni 2024.
Dalam pernyataan resmi yang juga didukung oleh Gemapala Wigwam FH UNSRI, MASOPALA UNSRI, Himpala Dharmapala Chakti Universitas Palembang, Himpala Bahtera Buana Politeknik Negeri Sriwijaya, Green Student Movement, dan BEM Fakultas Ekonomi UNSRI, mereka mendesak Pemprov Sumsel untuk segera melakukan pemilihan dan pencegahan terhadap bencana ekologis, merekomendasikan pencabutan izin pertambangan batubara, perkebunan kelapa sawit, dan kebun kayu/HTI yang merusak lingkungan, serta mengajak masyarakat untuk mengawal komitmen calon kepala daerah terhadap isu bencana ekologis pada Pilkada 2024.
“Isu bencana ekologis harus menjadi landasan dalam visi dan misi calon kepala daerah yang akan bertarung dalam Pilkada 2024,” tegas WALHI dan koalisi mahasiswa.
Mereka berharap dengan adanya kesadaran dan tindakan nyata dari berbagai pihak, kondisi lingkungan hidup di Sumatera Selatan bisa membaik dan mengurangi risiko bencana di masa mendatang.
“Kami menekankan bahwa bencana tersebut merupakan akumulasi dari kerusakan lingkungan hidup akibat pemanasan global, perubahan bentang alam, dan kehilangan tutupan pohon serta hutan, ” kata dia. [RG]

