RELUNG.ID – Setelah 15 bulan dilanda konflik berkepanjangan, Gaza akhirnya menyambut gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang diumumkan secara resmi di Qatar, Rabu (15/1).
Perjanjian ini dimediasi oleh Qatar, Amerika Serikat, dan Mesir, memberikan harapan bagi warga Gaza untuk menikmati momen kedamaian meski sementara.
Euforia warga terlihat jelas di berbagai kawasan Gaza. Puluhan orang memadati tenda-tenda di Khan Yunis, Gaza Selatan, untuk menyaksikan pengumuman gencatan senjata melalui siaran langsung konferensi pers yang disampaikan oleh Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani.
Begitu pengumuman resmi disampaikan, suasana berubah meriah. Warga turun ke jalan, mengibarkan bendera Palestina, dan merayakan gencatan senjata ini sebagai awal yang menjanjikan. Di kawasan Deir el-Balah, Gaza Tengah, kerumunan warga menyambut dengan sorak-sorai, melambangkan optimisme baru bagi penduduk yang telah lama terjebak dalam bayang-bayang perang.
Gencatan senjata ini dirancang dalam tiga tahap yang akan diawasi oleh lembaga mediator berbasis di Kairo, Mesir. Pada tahap pertama, yang akan berlangsung selama 42 hari, Hamas akan memulangkan 33 sandera yang mereka tahan sejak serangan 7 Oktober lalu, terutama anak-anak, perempuan, orang tua, dan orang sakit.
Di sisi lain, tentara Israel akan ditarik mundur dari wilayah Gaza ke perbatasan. Selain itu, tahap ini juga mencakup finalisasi pemulangan warga Palestina yang menjadi sandera Israel.
Gencatan senjata ini memberikan secercah harapan bagi warga Gaza yang selama ini hidup dalam ketidakpastian. Seiring dengan dimulainya tahap pertama, banyak yang berharap kesepakatan ini dapat menjadi langkah awal menuju perdamaian yang lebih permanen.
Namun, perjalanan menuju solusi jangka panjang masih panjang. Perjanjian ini menjadi ujian bagi para mediator, baik Qatar, Amerika Serikat, maupun Mesir, untuk memastikan semua pihak mematuhi kesepakatan dan mengupayakan kestabilan yang lebih luas di wilayah tersebut.
Bagi warga Gaza, meskipun gencatan ini hanya bersifat sementara, perayaan ini adalah simbol harapan—bahwa kedamaian mungkin saja dapat diraih di tengah kekacauan.[TRA]

