RELUNG.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan memetakan 12 daerah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menjadi langganan insiden serupa setiap tahun. Langkah ini diambil untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau yang berpotensi memicu kebakaran.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, menyebutkan 12 wilayah rawan karhutla itu adalah Ogan Ilir (OI), Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, Musi Banyuasin (Muba), Muara Enim, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Lahat, Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Musi Rawas (Mura), Musi Rawas Utara (Muratara), OKU, dan OKU Selatan.
“Dua belas daerah ini menjadi fokus kami, tetapi hotspot-nya akan terus dipantau untuk melihat tren peningkatan,” ujar Sudirman, Rabu (21/5/2025).
Proses penetapan status siaga darurat karhutla di tingkat provinsi masih menunggu pengesahan dari minimal dua kabupaten/kota. Saat ini, tiga daerah yaitu OI, Banyuasin, dan Muba diperkirakan akan menetapkan status siaga darurat dalam waktu dekat.
“OI sudah melakukan apel siaga dan mencatat tiga kejadian karhutla. Penetapan status hanya menunggu tanda tangan bupati. Hal serupa berlaku untuk Banyuasin dan Muba,” kata Sudirman.
Wilayah yang memiliki lahan gambut, seperti OKI, OI, Banyuasin, Muba, Muara Enim, dan PALI, menjadi prioritas utama. Pasalnya, lahan gambut lebih rentan terhadap kebakaran yang sulit dipadamkan dan berpotensi meluas.
“Selain itu, kami juga memprioritaskan wilayah strategis seperti jalan tol di OI agar lalu lintas tidak terganggu akibat kabut asap,” tambahnya.
Untuk mendukung penanganan karhutla, BPBD Sumsel telah mengusulkan delapan helikopter water bombing dan dua helikopter patroli. Selain itu, operasi modifikasi cuaca (OMC) direncanakan pada akhir Juni dengan durasi sepekan, tergantung pada pertumbuhan awan yang layak untuk penyemaian.
“Namun, pengajuan ini baru dapat dilaksanakan setelah SK penetapan siaga darurat diterbitkan oleh provinsi,” jelas Sudirman.[THQ]

