RELUNG.ID – Xiaomi Auto, divisi otomotif dari raksasa teknologi Tiongkok Xiaomi, mengumumkan pencapaian besar dengan berhasil mengirimkan 300 ribu unit mobil listrik hanya dalam kurun waktu 15 bulan sejak peluncuran kendaraan pertamanya.
Keberhasilan ini menandai tonggak penting dalam kiprah Xiaomi di industri kendaraan listrik (EV), sekaligus menunjukkan skala ekspansi yang agresif dan efisien.
Sejak mobil pertama mereka resmi dikirim ke konsumen pada 28 Maret 2024, Xiaomi mencatat rata-rata pengiriman sekitar 647 unit per hari setara dengan hampir 27 kendaraan setiap jam, tanpa henti selama 24 jam.
Menariknya, pada tahun 2025 ini, kecepatan distribusi meningkat menjadi rata-rata 840 unit per hari, atau hampir dua mobil listrik Xiaomi dikirim setiap menitnya.
Xiaomi pertama kali mengumumkan niatnya untuk terjun ke industri otomotif pada tahun 2021. Produk perdananya, sedan listrik Xiaomi SU7, diperkenalkan secara resmi pada Desember 2023 dan mulai dijual pada akhir Maret 2024.
100 ribu unit pertama dikirim dalam waktu sekitar tujuh bulan. 100 ribu unit kedua hanya membutuhkan waktu empat bulan. Lonjakan ke 300 ribu unit dicapai dalam waktu tiga setengah bulan berikutnya.
Kontributor utama kesuksesan Xiaomi adalah SU7, sedan listrik yang mendapat sambutan luar biasa dari pasar. Namun, popularitasnya juga menimbulkan tantangan: waktu tunggu pengiriman untuk varian SU7 standar kini mencapai 33 hingga 42 minggu. Sedangkan untuk versi performa tinggi, SU7 Ultra, konsumen menunggu antara 6 hingga 18 minggu.
Tak berhenti di sana, Xiaomi memperkenalkan SUV listrik YU7 pada 26 Juni 2025, dengan pengiriman pertama dimulai pada 6 Juli. Minat pasar langsung melesat, dengan waktu tunggu 40 hingga 60 minggu, menandakan bahwa YU7 akan menjadi penggerak utama pertumbuhan penjualan berikutnya.
Hingga saat ini, Xiaomi telah mengirimkan 160.513 unit kendaraan pada tahun 2025 dan tampaknya berada di jalur yang tepat untuk mencapai target tahunan sebesar 350.000 unit.
Untuk memenuhi lonjakan permintaan, perusahaan juga tengah menyiapkan fasilitas produksi tahap kedua di Beijing, yang akan menjadi tulang punggung ekspansi skala besar ke depan. (LWM)

