RELUNG.ID – Upaya cepat penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan kembali diuji. Dalam satu hari, tim gabungan harus berjibaku memadamkan titik api yang muncul di dua kabupaten berbeda, yakni Musi Banyuasin (Muba) dan Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), dengan total lahan terdampak mencapai 3,5 hektare.
Untuk mencegah api meluas, petugas tidak hanya mengandalkan pemadaman dari darat, tetapi juga mengerahkan dukungan udara melalui operasi water bombing menggunakan helikopter.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan kebakaran terbesar terjadi di Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Muba, dengan luas lahan yang terbakar sekitar 2,5 hektare. Sementara satu titik lainnya berada di Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten PALI, dengan luas lahan terdampak sekitar 1 hektare.
“Karhutla yang terpantau terjadi di Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Muba, dengan luas lahan terbakar sekitar 2,5 hektare. Kemudian di Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten PALI, luas lahan yang terbakar sekitar 1 hektare,” ujarnya, Minggu (14/6/2026).
Menurut Sudirman, kondisi medan yang sulit dijangkau membuat operasi udara menjadi pilihan penting dalam percepatan penanganan kebakaran. Helikopter water bombing diterjunkan untuk membantu petugas memadamkan titik-titik api yang berpotensi berkembang lebih luas.
Selama proses pemadaman, helikopter melakukan 20 kali penyiraman air ke lokasi kebakaran. Langkah tersebut dinilai efektif menekan penyebaran api hingga akhirnya seluruh titik yang terbakar berhasil dipadamkan.
“Pemadaman dilakukan oleh tim gabungan. Selain upaya dari darat, juga dilakukan water bombing menggunakan helikopter sebanyak 20 kali penyiraman. Hingga akhir pemadaman, lahan yang terbakar dilaporkan sudah padam,” katanya.
BPBD Sumsel menilai respons cepat menjadi kunci utama dalam penanganan karhutla, terutama saat sejumlah wilayah mulai memasuki musim kemarau yang identik dengan meningkatnya risiko kebakaran lahan.
“Langkah cepat dilakukan agar api tidak meluas ke area lain. Dukungan water bombing cukup membantu mempercepat proses pemadaman di lokasi yang sulit dijangkau petugas darat,” jelas Sudirman.
Meski dua titik kebakaran tersebut telah berhasil dipadamkan, BPBD Sumsel tetap meningkatkan pemantauan di sejumlah daerah yang masuk kategori rawan karhutla. Pengawasan dilakukan bersama instansi terkait untuk mendeteksi lebih dini kemunculan titik api baru.
Di sisi lain, masyarakat kembali diingatkan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Selain melanggar aturan, praktik tersebut berpotensi memicu kebakaran yang lebih besar dan sulit dikendalikan saat cuaca kering.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan. Saat ini potensi kebakaran cukup tinggi sehingga diperlukan kewaspadaan bersama untuk mencegah terjadinya karhutla,” tegasnya.[THQ]

