RELUNG.ID – Kereta api mulai menjadi pilihan wisatawan mancanegara (wisman) saat menjelajahi wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel).
PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional III Palembang mencatat 765 wisman menggunakan layanan kereta api sepanjang Semester I 2026. Angka ini naik tipis 2 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 752 orang.
Meski pertumbuhannya belum signifikan, tren tersebut menunjukkan minat wisman terhadap moda transportasi kereta api di Sumbagsel terus bergerak positif.
Manager Humas KAI Divre III Palembang, Aida Suryanti, mengatakan peningkatan tersebut menjadi indikator bahwa kereta api semakin dipercaya untuk menunjang mobilitas wisatawan selama berada di Sumbagsel.
“Peningkatan jumlah wisatawan mancanegara yang menggunakan kereta api bukan hanya sebagai capaian jumlah penumpang, tetapi juga sebagai bagian dari kontribusi KAI dalam mendukung konektivitas pariwisata dan pergerakan ekonomi masyarakat,” kata Aida.
Data tiga tahun terakhir menunjukkan tren tersebut. Pada Semester I 2024, tercatat 661 wisman menggunakan kereta api. Jumlahnya naik menjadi 752 orang pada 2025 dan kembali meningkat menjadi 765 orang pada 2026.
Kertapati Dominan
Dari total 765 wisman, Stasiun Kertapati Palembang menjadi titik keberangkatan terbanyak dengan 385 penumpang.
Disusul Stasiun Lubuklinggau sebanyak 153 orang, Lahat 82 orang, Prabumulih 67 orang, dan Muara Enim 52 orang.
Data tersebut menunjukkan pergerakan wisman mulai menyebar ke sejumlah daerah, tidak hanya terkonsentrasi di Palembang.
Kondisi ini menjadi peluang bagi daerah-daerah di Sumsel untuk menggarap potensi wisata sekaligus menangkap belanja wisatawan. Mobilitas menggunakan kereta api membuat wisatawan lebih mudah berpindah antardaerah dengan jadwal perjalanan yang relatif teratur.
Sumsel sendiri memiliki modal wisata yang cukup beragam, mulai dari jejak sejarah Kerajaan Sriwijaya, budaya Melayu, kuliner khas seperti pempek dan pindang patin, hingga destinasi seperti Jembatan Ampera, Bukit Siguntang dan Danau Ranau.
Tak Sekadar Angkut Penumpang
KAI menilai peningkatan mobilitas wisman menggunakan kereta api memiliki dampak lebih luas dibanding sekadar menambah jumlah penumpang.
Pergerakan wisatawan berpotensi menggerakkan sektor hotel dan akomodasi, restoran, transportasi lanjutan, pusat oleh-oleh, UMKM hingga industri kreatif.
“Pariwisata memiliki efek berganda terhadap perekonomian. Ketika wisatawan bergerak dari satu daerah ke daerah lain, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh sektor transportasi, tetapi juga oleh hotel, restoran, UMKM, pelaku ekonomi kreatif, pengrajin, hingga masyarakat yang berada di sekitar destinasi wisata,” ujar Aida.
Menurutnya, aktivitas wisatawan juga berkontribusi terhadap penerimaan negara melalui berbagai aktivitas ekonomi, termasuk penukaran devisa, pajak dan retribusi sektor pariwisata.
Karena itu, KAI tidak ingin kereta api hanya diposisikan sebagai sarana untuk mengantar wisatawan dari satu titik ke titik lain.
“Kami ingin kereta api tidak hanya menjadi moda transportasi yang mengantarkan wisatawan menuju destinasi, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman perjalanan mereka selama berada di Sumatera Selatan,” katanya.
Aida menegaskan aspek keselamatan, pelayanan, kenyamanan dan ketepatan waktu tetap menjadi prioritas KAI.
Peluang Pariwisata Berkelanjutan
KAI juga mendorong agar pertumbuhan wisatawan tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan. Dampak ekonomi terhadap masyarakat dan keberlanjutan lingkungan serta budaya harus menjadi bagian dari pengembangan pariwisata.
“Pariwisata bukan hanya tentang kunjungan sesaat, tetapi merupakan investasi jangka panjang. Pertumbuhan sektor ini perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga budaya, lingkungan, dan keberlanjutan ekonomi masyarakat,” pungkas Aida. (KPB)

