RELUNG.ID- Video sejumlah siswi SMP Negeri 1 Tanete, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel), menyanyikan lagu rohani di rumah duka viral di media sosial. Para siswi yang mengenakan hijab itu diketahui sedang melayat ke rumah duka keluarga temannya.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Luwu Andi Palanggi mengatakan terdapat sekitar delapan siswi yang ikut menyanyikan lagu rohani dalam kegiatan pelepasan jenazah tersebut.
Peristiwa itu terjadi saat orang tua salah seorang siswa yang beragama nonmuslim meninggal dunia di Kecamatan Walenrang pada Senin (28/9/2026).
“Kebetulan orang tua siswa yang meninggal itu nonmuslim, dalam pelepasan jenazah nonmuslim kan memang ada kegiatan seperti itu. Nah ini siswa pada saat ada sumbangan lagu pada ikut juga,” kata Andi Palanggi, Sabtu (3/10/2026).
Menurut Andi, para siswi datang ke rumah duka untuk melayat. Mereka kemudian ikut menyanyikan lagu rohani yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan di rumah duka.
Andi menegaskan keterlibatan para siswi tersebut bukan atas instruksi pihak sekolah. Bahkan, guru yang mendampingi telah mengingatkan mereka agar tidak mengikuti rangkaian ibadah tersebut.
“Menurut gurunya itu sudah dilarang, cuma siswa menyebut sebagai bentuk dukanya. Itu sekitar ada 8 orang (siswi yang ikut menyanyi lagu rohani) kayaknya,” ujarnya.
Kepala Disdik Sulsel Iqbal Nadjamuddin mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Disdik Luwu dan meminta pihak sekolah memberikan penjelasan terkait video yang beredar.
Iqbal menyebut para siswi diduga tidak memahami batas keterlibatan dalam kegiatan ibadah ketika datang melayat ke rumah duka keluarga temannya.
“Ini acara melayat karena ada keluarga siswa yang meninggal kebetulan non-Islam, mungkin bertepatan dengan proses ibadah di rumah duka siswa ini mungkin tidak memahami aktivitas ibadah ini akhirnya ikut juga,” kata Iqbal.
Disdik Luwu kemudian memberikan arahan kepada pihak sekolah agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. Para siswi yang ada dalam video juga telah diminta membuat pernyataan.
Andi mengatakan persoalan tersebut telah dibahas dalam rapat dengar pendapat (RDP) DPRD Luwu yang turut melibatkan unsur Majelis Ulama Indonesia (MUI).
“Dari penjelasan gurunya, wilayah situ kadang masyarakat seperti itu. Tapi bagaimanapun kami perintahkan hindari, tidak usah ada lagi seperti itu dan mereka yang ada di dalam video juga sudah buat pernyataan,” jelasnya.
Disdik Luwu memastikan telah meminta klarifikasi dari pihak sekolah untuk mengetahui kronologi kejadian sekaligus memberikan pemahaman kepada para siswa agar dapat menghormati kegiatan keagamaan di rumah duka tanpa mengikuti rangkaian ibadah yang bukan bagian dari keyakinannya.[YKP]

