RELUNG.ID– Presiden Prabowo Subianto menyebut sosok yang diistilahkannya sebagai “londo ireng” masih ada hingga saat ini. Menurutnya, kelompok tersebut kini hadir dengan berbagai peran, mulai dari wartawan, jurnalis, pengamat hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Kamis (23/7/2026) malam.
Dalam pidatonya, Prabowo lebih dahulu menyoroti pemberitaan sejumlah media yang dinilainya lebih menonjolkan sisi negatif dibanding capaian pemerintah.
Ia mencontohkan program renovasi 27.000 sekolah yang telah dilakukan pemerintah. Menurutnya, masih ada media yang memilih menampilkan sekolah-sekolah yang belum diperbaiki sebagai berita utama.
“Ada juga media-media yang, walaupun kita sudah perbaiki 27.000 sekolah, dia cari sekolah yang belum diperbaiki, dia taruh di halaman pertama. Dia kira kita nggak ngerti,” ujar Prabowo.
Meski mengaku mengetahui media yang dimaksud, Prabowo memilih tidak menyebutkan namanya.
“Saya nggak sebutlah media mana. Pada saatnya saya sebut. Kalian sudah tahulah,” katanya.
Prabowo menegaskan pemerintah tetap menjunjung tinggi demokrasi dan tidak antikritik. Namun, ia menilai terdapat pihak-pihak yang menurutnya lebih memilih mengabdi kepada kepentingan bangsa lain daripada kepentingan Indonesia.
Ia kemudian menggunakan istilah “londo ireng”, yang menurutnya dahulu digunakan untuk menyebut orang Indonesia yang berpihak kepada Belanda dan melawan bangsanya sendiri pada masa penjajahan.
“Itu yang dulu kita sebut londo ireng. Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain. Wartawan, jurnalis, apa itu, pengamat, LSM,” kata Prabowo.
Selain itu, Presiden juga mempertanyakan sumber pendanaan sejumlah LSM yang kerap mengkritik pemerintah.
“LSM harus kita tanya. Yang gaji lo siapa? Yang bayar listrik lo siapa? Yang bayar handphone lo siapa? Cari kerjaan susah, kita tahu kan,” ujarnya.
Di akhir pidatonya, Prabowo mengatakan pemerintah memahami adanya upaya untuk menggoyahkan kepercayaan masyarakat terhadap kondisi Indonesia melalui berbagai narasi pesimistis.
Ia menyinggung berbagai prediksi yang menyebut Indonesia akan mengalami kolaps pada bulan-bulan tertentu, namun menurutnya seluruh prediksi tersebut tidak pernah terbukti.
“Jadi saudara-saudara kita paham ada kampanye besar untuk kita goyah. Indonesia akan kolaps, bulan April akan kolaps, eh April lewat nggak kolaps. Bulan Mei akan kolaps, bulan Mei lewat nggak kolaps. Bulan Juni akan kolaps, bulan Juli akan kolaps, tiap bulan akan kolaps,” ujar Prabowo.
Menutup pidatonya, Prabowo sempat berkelakar bahwa masih ada hal yang ingin disampaikannya, namun ia mengurungkannya karena di lokasi terdapat wartawan.
“Saya mau ngomong sesuatu tapi ada wartawan, nggak boleh. Tahan ya jangan sebut. Tadi saya bilang gelasmu, gelasmu boleh kan gelasmu? Gelas,” ucapnya yang disambut tawa para hadirin.[YKP]

