RELUNG.ID – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan memperkuat pengamanan karhutla di tengah lonjakan kebakaran yang terjadi memasuki puncak musim kemarau.
Sebanyak 11.567 personel gabungan kini disiagakan untuk memastikan kebakaran dapat ditangani sebelum meluas dan berdampak terhadap aktivitas masyarakat.
Langkah tersebut diambil setelah BPBD Sumsel mencatat 1.077 kejadian karhutla sejak awal 2026. Lonjakan kasus paling tajam terjadi pada Juli yang mencapai 456 kejadian, dibandingkan 120 kejadian pada Juni.
Kepala Pelaksana BPBD Sumsel Muhammad Iqbal Alisyahbana mengatakan peningkatan kasus berjalan seiring bertambahnya titik panas.
Pada Selasa (11/8/2026), sebanyak 142 hotspot terdeteksi tersebar di hampir seluruh kabupaten/kota di Sumsel.
“Ini yang perlu kita waspadai bersama. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September dan kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan,” ujar Iqbal.
Secara kumulatif, 7.050 hotspot terdeteksi sejak 1 Januari hingga 10 Agustus 2026. Khusus selama 1-10 Agustus, jumlahnya mencapai 2.145 titik panas.
OKI, Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Ilir dan Muara Enim menjadi wilayah dengan kejadian karhutla terbanyak. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena hasil patroli udara menunjukkan sejumlah kawasan gambut, terutama di OKI, mulai mengering.
“Wilayah-wilayah gambut sudah mulai mengering dan potensi kebakarannya akan semakin besar pada Agustus dan September. Karena itu, kita perlu meningkatkan kesiapsiagaan dan pencegahan,” katanya.
Selain ancaman kebakaran, pemerintah juga mewaspadai dampak asap terhadap kesehatan. BPBD meminta perlindungan terhadap kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia menjadi perhatian apabila kualitas udara memburuk.
“Untuk mempercepat respons, personel gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Lanud, Manggala Agni, Satpol PP, Polisi Kehutanan, Masyarakat Peduli Api, kelompok tani, Regu Pemadam Kebakaran hingga unsur perusahaan disiagakan di berbagai wilayah,”kata dia.
Komandan Korem 044/Garuda Dempo (Gapo) Brigjen TNI Khabib Mahfud mengatakan kombinasi operasi darat dan udara masih mampu mengendalikan karhutla di Sumsel.
“Kita sudah berupaya melaksanakan pemadaman. Kita sudah melakukan imbauan, pemadaman dan lain-lain. Termasuk sudah melaksanakan OMC, bahkan jika diperlukan kita juga siap melakukan OMC pada malam hari jika ada awan penghujan,” ujarnya.
Menurut Khabib, pemantauan kualitas udara juga terus dilakukan agar asap karhutla tidak sampai mengganggu aktivitas masyarakat. Termasuk kegiatan belajar mengajar di sekolah. Hingga saat ini, kondisi kualitas udara dinilai masih memungkinkan aktivitas pendidikan tetap berjalan.
“Indeks pencemaran udara masih di level yang belum memerlukan untuk meliburkan siswa,” tegasnya.[THQ]

