RELUNG.ID – Sejumlah langkah operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) telah dilakukan, mulai dari patroli, hingga pengerahan helikopter.
Namun, operasi pemadaman tersebut dinilai belum cukup untuk menghentikan Karhutla di wilayah Sumsel.
Hal ini diakui oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Muhammad Iqbal alisyahbana, Senin (24/8/2026).
Menurutnya, 99 persen kejadian karhutla di Sumsel disebabkan aktivitas manusia. Karena itu, upaya pencegahan dinilai tidak bisa hanya mengandalkan operasi pemadaman.
“99 persen kebakaran itu ulah manusia. Artinya, kesadaran masyarakatnya yang harus ditingkatkan,” katanya.
Kondisi cuaca yang semakin panas dan kering saat ini memang meningkatkan risiko kebakaran. Namun, hal ini tidak otomatis menyebabkan lahan terbakar tanpa adanya sumber api.
Ia pun meminta masyarakat, terutama yang berada di kawasan rawan karhutla, tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu munculnya api.
“Untuk masyarakat yang berada di daerah-daerah rawan karhutla, diimbau agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar ataupun melakukan kegiatan lain yang menggunakan api agar lebih berhati-hati,” ujarnya.
BPBD Sumsel saat ini memperkuat pemantauan melalui patroli udara. Helikopter dikerahkan untuk memantau kawasan rawan pada pagi, siang hingga sore hari.
Namun, keberadaan patroli udara belum sepenuhnya mampu mencegah munculnya kebakaran baru.
“Helikopter sudah patroli pagi, siang, sore, tapi masih terjadi kebakaran. Nah, itulah yang harus kita buat sadar masyarakat,” kata Iqbal.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan edukasi dan sosialisasi di tingkat masyarakat menjadi pekerjaan penting. Pemerintah dapat mempercepat pemadaman setelah api terdeteksi, tetapi pencegahan akan jauh lebih efektif apabila masyarakat tidak memulai pembakaran.
Iqbal juga mengingatkan bahwa istilah hotspot tidak selalu berarti telah terjadi kebakaran. Titik panas merupakan indikasi yang perlu diverifikasi lebih lanjut di lapangan.
“Meski demikian, peningkatan hotspot tetap harus diikuti kewaspadaan karena kondisi cuaca panas dan kering membuat api lebih mudah berkembang,” tutupnya. (THQ)

