RELUNG.ID – Sorotan publik terhadap dirinya di tengah polemik ucapan ulang tahun dari sejumlah akun resmi Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) membuat Aisyah Thisia Agustiar atau Thisia Halijam akhirnya buka suara.
Istri Gubernur Kalteng Agustiar Sabran sekaligus Ketua Tim Penggerak PKK Kalteng itu tak kuasa menahan tangis saat mengikuti forum pengajian “Menata Hati” bersama Ustaz A Hilman Fauzi di Palangka Raya, Minggu (30/8/2026).
Di hadapan jemaah dan sang ulama, perempuan berusia 27 tahun tersebut mengungkapkan pergulatan batin yang dirasakannya setelah berbagai tuduhan dan penilaian publik mengarah kepadanya.
Thisia mempertanyakan sikap sebagian orang yang menurutnya mudah memberikan penilaian tanpa mengetahui kehidupan maupun persoalan yang sebenarnya dihadapi seseorang.
“Yang selalu saya pertanyakan ustaz, kenapa selalu ada orang yang menghakimi orang lain, padahal dia tidak pernah tahu dan tidak menjalani kehidupan itu, namun seolah-olah dia lebih tahu,” ungkap Thisia melalui unggahan di media sosial pribadinya.
Tangis Thisia muncul ketika dirinya berada dalam situasi yang menjadi sorotan luas di tengah masyarakat Kalteng.
Nama Thisia sebelumnya ramai diperbincangkan setelah sejumlah akun resmi OPD Pemprov Kalteng secara serentak mengunggah ucapan selamat ulang tahun untuk dirinya.
Ucapan tersebut diunggah bertepatan dengan ulang tahun Thisia yang ke-27 pada 21 Agustus 2026.
Namun, unggahan itu justru memicu kontroversi. Publik mempertanyakan penggunaan akun resmi instansi pemerintah untuk menyampaikan ucapan yang bersifat personal, terlebih dilakukan ketika Kalteng sedang menghadapi persoalan serius akibat kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap.
Kritik kemudian berkembang menjadi aksi demonstrasi.
Aliansi Masyarakat Kalteng Melawan menggelar aksi di depan Kantor Gubernur Kalteng pada Senin (31/8/2026). Massa bahkan membawa spanduk bernada sindiran yang ditujukan kepada Thisia.
Koordinator Lapangan aksi, Dida Pramida, menilai pemerintah daerah seharusnya mengerahkan perhatian dan sumber daya untuk menangani karhutla serta melindungi masyarakat.
“Sebenarnya kalau untuk itu kami sangat-sangat menyayangkan ya pemerintah Kalimantan Tengah, dinas-dinas dan lainnya. Malah sibuk mengucapkan selamat ulang tahun, bahkan itu sangat mempermalukan kita Kalimantan Tengah di tengah-tengah kita menjadi orang lagi pray for Kalimantan,” kata Dida.
Polemik tersebut semakin sensitif karena terjadi ketika masyarakat Kalteng menghadapi dampak karhutla.
Juru Bicara Aliansi Masyarakat Kalteng Melawan, Gihon, menyebut kondisi pencemaran udara di Kalteng sangat memprihatinkan.
Ia bahkan mengklaim ISPU di Kalteng sempat mencapai angka 2.200 pada Minggu (30/8/2026).
Aliansi kemudian mendesak pemerintah menghentikan kegiatan yang dianggap tidak mendesak dan mengalihkan fokus pada pemadaman karhutla serta penanganan dampak kesehatan akibat kabut asap.
Gubernur Kalteng Agustiar Sabran akhirnya menemui massa pada aksi lanjutan, Selasa (1/9/2026).
Agustiar bersama sejumlah pejabat memilih duduk melingkar dengan para demonstran di halaman Kantor Gubernur Kalteng. Pertemuan itu dilakukan untuk mendengarkan secara langsung tuntutan masyarakat terkait penanganan karhutla.
Di tengah kontroversi tersebut, aktivitas Thisia dalam membantu masyarakat menghadapi kabut asap juga terlihat.
Pada akhir Agustus 2026, Thisia membagikan kegiatan Pramuka Peduli Kwartir Daerah Kalimantan Tengah yang turun langsung membantu masyarakat terdampak kabut asap.
Dalam kegiatan tersebut, ribuan masker dibagikan kepada masyarakat sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi udara yang memburuk akibat karhutla.
Thisia juga menyebut Tim Penggerak PKK Kalteng bersama Dinas Kesehatan Kalteng membagikan 3.000 masker kepada masyarakat di kawasan Bundaran Besar Palangka Raya pada 29 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat menghadapi risiko kesehatan akibat buruknya kualitas udara. (KPB)

