RELUNG.ID – Saat sebagian besar warga Palembang mulai beristirahat, petugas LRT Sumsel justru bekerja. Mereka memanfaatkan waktu enam jam setelah operasional berakhir untuk memastikan jalur kembali siap digunakan keesokan harinya.
Perawatan lintasan dilakukan setiap malam mulai pukul 21.00 WIB hingga 03.00 WIB.
Waktu tersebut menjadi ruang bagi tim teknis untuk memeriksa dan memperbaiki berbagai bagian prasarana tanpa mengganggu perjalanan penumpang.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional III Palembang bersama Balai Pengelola Kereta Api Ringan Sumatera Selatan (BPKARSS) menjalankan pemeliharaan secara rutin.
Langkah ini penting karena LRT Sumsel melayani mobilitas masyarakat dengan lintasan sepanjang 44,6 kilometer.
Hingga 24 September 2026, jumlah pelanggan LRT Sumsel mencapai 3.230.362 orang. Rata-rata 12.144 pelanggan menggunakan layanan tersebut setiap hari.
Manager Humas KAI Divre III Palembang, Aida Suryanti, mengatakan pemeliharaan dilakukan untuk mencegah gangguan sebelum berdampak terhadap perjalanan.
“Keselamatan merupakan prioritas utama dalam setiap perjalanan LRT Sumsel. Karena itu, kondisi prasarana harus selalu dipastikan dalam keadaan optimal,” kata Aida, Sabtu (26/9/2026).
Salah satu pekerjaan rutin adalah pelumasan rel pada jalur lengkung dengan radius kurang dari 250 meter.
Petugas menggunakan lori pelumasan yang didorong secara manual sepanjang lintasan. Cairan pelumas diberikan pada bagian rel yang telah ditentukan.
Pelumasan dilakukan untuk mengurangi keausan akibat interaksi roda kereta dengan rel saat rangkaian melintasi jalur lengkung.
Pekerjaan malam juga mencakup pemeriksaan dan perbaikan jalur. Termasuk mengganti komponen yang aus atau rusak, menormalisasi genangan air serta mengencangkan baut yang kendur.
Tidak berhenti pada perawatan malam. Pemeriksaan kembali dilakukan sebelum LRT mulai beroperasi.
Petugas Pemeriksa Jalur (PPJ) menyusuri lintasan menggunakan kereta sweeping setiap pagi.
Pemeriksaan tersebut untuk memastikan tidak ada kondisi pada jalur yang dapat mengganggu keselamatan perjalanan.
Jika ditemukan masalah, penanganan dilakukan terlebih dahulu sesuai prosedur sebelum jalur dinyatakan siap digunakan.
Aida menegaskan, perawatan tidak hanya menyasar rel.
“Kami tidak hanya melihat kondisi rel, tetapi juga seluruh komponen pendukung dan lingkungan jalur,” ujarnya.
Menurut Aida, setiap temuan yang berpotensi memengaruhi keselamatan dan keandalan perjalanan harus segera ditindaklanjuti.
“Prinsipnya, kondisi jalur harus dipastikan siap sebelum digunakan untuk operasional,” tegasnya.

