RELUNG.ID – Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) kian mengkhawatirkan. Pasalnya, dalam sehari setidaknya 3 hingga 4 titik terbakar.
Kondisi ini menyebabkan kualitas udara di wilayah OKI masuk dalam kategori berbahaya.
Indeks kualitas udara pada pagi hari melebihi batas kategori berbahaya hingga mencapai angka 750. Sementara batas angka kategori berbahaya yakni 300.
Tingginya polusi tersebut akibat banyaknya partikel debu halus (PM2.5) yang bercambur di udara mencapai konsentrasi pekat.
Suhu dan kelembaban udara yang mendekati jenuh serta kecepatan angin yang stagnan, turut menjadi faktor yang menyebabkan kualitas udara di Kabupaten OKI memburuk.
Kabid II BPBD OKI, Yudo Siswantoro mengatakan, saat ini petugas harus memadamkan tiga hingga empat titik kebakaran setiap hari.
Yudo menyebutkan, salah satu kebakaran yang saat ini masih dalam penanganan terjadi di kawasan Perumahan Cetak, Kecamatan Kayuagung.
“Sekarang api sangat besar, sudah ada dua tim yang turun ke sana. Kami terus maksimal dalam langkah pemadaman, bahkan Sabtu dan Minggu kami masih ke lapangan,” kata Yudo, Kamis (1/10/2026).
Yudo mengakui, Keterbatasan jumlah personel membuat penanganan karhutla menjadi lamban. Belum lagi akses jalan dan persediaan air yang semakin sedikit menambah kesulitan petugas di lapangan.
“BPBD OKI cuma memiliki 35 personel satgas yang terus dikerahkan untuk menangani kebakaran di berbagai wilayah. Itu tidak bisa meng-cover pemadaman di seluruh OKI,” ujarnya.
Yudo mengatakan, salah satu tantangan terbesar yakni pemadaman karhutla di lahan kambut. Kesulitan pemadaman terletak pada karakter lahan gambut yang masih menyimpan bara api di bawah tanah meski sudah dipadamkan.
Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan waktu dan peralatan khusus. Untuk wilayah yang memiliki sumber air cukup dekat, petugas dapat menggunakan selang dan mesin pompa. Namun, untuk lokasi yang jauh dari sumber air, diperlukan dukungan water bombing.
“Apalagi sekarang kemarau sudah lama, jarak api dengan sumber air itu sangat jauh, kadang sampai satu kilometer. Yang jauh-jauh itu makanya memakai water bombing, kalau yang dekat kita pakai selang dan mesin sudah bisa,” terangnya.
Yudo juga menyebutkan adanya kawasan yang cukup berbahaya, diantaranya di Desa Menang Raya, Kecamatan Pedamaran. Menurutnya, kebakaran di wilayah tersebut terjadi di lahan gambut dan lokasinya berdekatan dengan permukiman warga.
“Jumlah titik api masih cukup tinggi. Namun, dibandingkan beberapa hari sebelumnya, kondisi tersebut mulai menunjukkan penurunan,” tegasnya.
Sementara itu, mengenai potensi hujan, Yudo menyebut prediksi hujan diperkirakan mulai terjadi pada akhir Oktober. Namun, pihaknya belum mengetahui secara pasti intensitas hujan yang akan turun.
“Prediksi hujan turun di akhir Oktober, tapi intensitas hujan yang akan turun belum bisa dipastikan,” pungkasnya. (HWJ)

