RELUNG.ID-Langkah Presiden Prabowo Subianto melantik pengamat politik sekaligus akademisi Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) memicu gelombang reaksi publik. Pelantikan tersebut serta-merta memantik ingatan warganet akan ucapan-ucapan Rocky di masa lalu terkait sikapnya terhadap tawaran kekuasaan.
Sorotan tajam salah satunya datang dari akademisi sekaligus aktivis hukum tata negara, Feri Amsari. Melalui akun media sosial resminya, Feri mengunggah ulang rekaman video lama yang memperlihatkan momen percakapannya bersama Rocky Gerung. Unggahan tersebut dibubuhi keterangan singkat namun menohok: “Kalau sewaktu-waktu.”
Dalam potongan video tersebut, Feri terdengar melontarkan pertanyaan pengandaian mengenai kemungkinan Rocky dipanggil untuk mengabdi di dalam lingkaran pemerintahan.
“Kalau tiba-tiba memang panggilan untuk mengabdi itu datang,” tanya Feri dalam rekaman tersebut.
Mendengar pertanyaan itu, Rocky saat itu menjawab dengan gayanya yang khas dan tegas.
“Saya bilang kalau tawaran itu datang, saya akan dengan cara seksama dalam tempo sesingkat-singkatnya menolak,” jawab Rocky, merujuk pada diksi bersejarah Proklamasi.
Kini, video tersebut viral kembali dan dibanjiri beragam tanggapan warganet usai situasi berbalik arah. Sejumlah akun media sosial beramai-ramai mengunggah ulang konten serupa dan mempertanyakan konsistensi Rocky yang selama ini dikenal sebagai kritikus paling vokal terhadap pemerintah.
Adapun pelantikan Rocky Gerung dilaksanakan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Rocky resmi menjadi salah satu dari 26 tokoh yang diangkat sebagai anggota Wantimpres berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 107/P Tahun 2026.
Dengan jabatan baru ini, Rocky kini berada di dalam lembaga pemerintah yang berkedudukan langsung di bawah Presiden, dengan fungsi utama memberikan nasihat serta pertimbangan strategis.
Merujuk pada Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2006 tentang Wantimpres, nasihat dan pertimbangan tersebut dapat disampaikan baik atas permintaan Presiden maupun tanpa diminta. Namun, aturan secara ketat melarang anggota Wantimpres mempublikasikan atau menyebarluaskan isi masukan yang diberikan kepada Kepala Negara.
Menanggapi berbagai spekulasi dan tuduhan balik arah, Rocky usai pelantikan memberikan klarifikasi mengenai peran barunya di Istana. Ia menegaskan bahwa posisi Wantimpres bukan ranah teknis, melainkan kedudukan etis dalam mengawal jalannya pemerintahan.
“Jadi dewan ini bukan untuk melayani pertanyaan-pertanyaan konkret harian. Diperlukan kontemplasi, diperlukan evaluasi, diperlukan bahkan kemampuan untuk berfantasi tentang masa depan republik,” kata Rocky saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jumat (2/10/2026).
Rocky menjelaskan, tugas teknis penasihat pemerintah sudah diakomodasi oleh tim penasihat khusus Presiden. Sementara Wantimpres diisi oleh figur-figur yang memberikan pandangan makro.
“Ini dewan etis, lebih bukan teknis. Teknis ada penasihat khusus Pak Presiden tentang luar negeri, tentang pertahanan segala macam. Tapi ini dewan yang diisi oleh orang-orang dengan kapasitas,” ujarnya.
Ia juga menjamin bahwa keputusannya masuk ke dalam jajaran Wantimpres tidak akan menumpulkan daya kritisnya. Rocky menegaskan akan tetap bersikap kritis terhadap setiap kebijakan pemerintah dengan menakar dampak serta mengantisipasi persoalan yang mungkin timbul bagi masyarakat. [vid]

