RELUNG.ID – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mempercepat pembangunan lima flyover di Kabupaten Muara Enim untuk mengurai kemacetan di perlintasan sebidang kereta api sekaligus memperlancar mobilitas masyarakat di kawasan sentra pertambangan batu bara.
Komitmen tersebut ditegaskan Gubernur Sumsel Herman Deru saat memimpin rapat percepatan pembangunan lima flyover di Griya Agung, Kamis (8/10/2026).
Herman Deru mengatakan, percepatan pembangunan infrastruktur tersebut membutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, pengelola perkeretaapian, perusahaan, hingga instansi yang menangani pertanahan.
Menurutnya, perkembangan pembangunan yang telah dicapai harus diikuti dengan penyelesaian berbagai kendala agar seluruh proyek dapat berjalan sesuai jadwal.
“Yang terpenting adalah semangat untuk mempercepat. Semua pihak harus bekerja sama sampai ini selesai. Persoalan pembangunan ini berbeda-beda, tetapi kita harus taat dengan time schedule,” tegasnya.
Ia menilai, keberadaan flyover menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan transportasi di Muara Enim, terutama akibat tingginya aktivitas angkutan batu bara yang bersinggungan dengan mobilitas masyarakat.
Herman Deru menegaskan, distribusi sumber daya alam harus tetap berjalan tanpa mengorbankan kelancaran transportasi umum dan kenyamanan masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa Pemprov Sumsel telah mendorong pembenahan sistem angkutan batu bara sejak awal masa kepemimpinannya melalui Pergub Sumsel Nomor 74 Tahun 2018. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong penggunaan jalan khusus dan jalur kereta api untuk mengangkut batu bara.
“Alhamdulillah kita menang, dengan solusi batu bara diangkut melalui jalan khusus dan kereta api,” ujarnya.
Herman Deru juga meminta agar persoalan administrasi dan pembebasan lahan tidak menjadi penghambat pembangunan. Menurutnya, setiap tahapan harus diselesaikan secara terkoordinasi agar pelaksanaan proyek tidak melenceng dari target.
Ia berharap pembangunan berjalan sesuai rencana tanpa menimbulkan gangguan berkepanjangan terhadap arus lalu lintas.
Sementara itu, Asisten II Bidang Pembangunan dan Ekonomi Setda Sumsel, Basyaruddin, memaparkan perkembangan lima proyek flyover yang direncanakan di sejumlah perlintasan kereta api di Kabupaten Muara Enim.
Pada proyek JPL 123 Jalan Sudirman, Kabupaten Muara Enim, progres pembangunan telah mencapai sekitar 21 persen dan dinilai sesuai rencana.
Selanjutnya, pembangunan flyover JPL 99 Belimbing-Pendopo membutuhkan anggaran sekitar Rp197,93 miliar. Proyek ini memerlukan percepatan koordinasi, terutama dalam proses pengadaan tanah agar pelaksanaannya sesuai target.
Untuk JPL 111 Ujan Mas, kebutuhan anggaran mencapai sekitar Rp124,9 miliar dengan luas lahan yang diperlukan sebesar 16.653 meter persegi.
Adapun JPL 104 Gunung Megang membutuhkan anggaran sekitar Rp128,75 miliar. Penyelesaian persoalan lahannya ditargetkan pada 1 Februari 2027.
Sementara itu, pembangunan JPL 106 Gunung Megang 2 membutuhkan anggaran sekitar Rp206 miliar.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Muara Enim, Sumarni, menyambut baik langkah percepatan pembangunan lima flyover tersebut. Ia menilai, proyek ini akan memberikan dampak signifikan terhadap kelancaran transportasi dan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Kami sangat senang luar biasa. Ini akan berdampak besar bagi daerah kami dan masyarakat Muara Enim,” katanya.
Sumarni menjelaskan, perlintasan kereta api selama ini menjadi salah satu titik yang kerap menghambat perjalanan warga. Kondisi tersebut membutuhkan penanganan melalui pembangunan infrastruktur yang mampu memisahkan arus lalu lintas jalan raya dan perjalanan kereta api.
Pemkab Muara Enim pun menyatakan dukungan terhadap percepatan pembangunan di sejumlah titik, termasuk JPL 111 yang melibatkan PT Kereta Api Indonesia (KAI), JPL 99 yang melibatkan PT Bukit Asam (PTBA), serta JPL 104 yang melibatkan pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi.
“Percepatan lima proyek flyover ini diharapkan menjadi bagian dari solusi jangka panjang untuk mengurangi kemacetan di wilayah pertambangan batu bara. Selain meningkatkan keselamatan di perlintasan kereta api, infrastruktur tersebut juga diharapkan mendukung kelancaran distribusi logistik dan mobilitas masyarakat,” tutupnya. (DSK)

