RELUNG.ID – Pasar ponsel pintar global mengalami penurunan tajam pada kuartal III 2026.
Berdasarkan laporan Counterpoint Research, pengiriman smartphone dunia sepanjang Juli hingga September 2026 turun 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di tengah pelemahan pasar tersebut, Samsung dan Apple justru berhasil meningkatkan pangsa pasar. Kedua perusahaan menjadi satu-satunya merek dalam lima besar yang mencatatkan kenaikan pangsa pasar pada periode tersebut.
Samsung memimpin pasar dengan pangsa 23 persen, meningkat dari 19 persen pada kuartal III 2025. Apple menyusul di posisi kedua dengan pangsa pasar 22 persen, naik dari 18 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, Xiaomi berada di posisi ketiga dengan pangsa pasar 10 persen, turun dari 14 persen. Oppo menempati posisi keempat dengan 9 persen, dibandingkan 12 persen pada tahun sebelumnya. Adapun vivo berada di posisi kelima dengan pangsa pasar 8 persen, turun dari 9 persen.
Counterpoint Research menyebut pengiriman smartphone pada kuartal III 2026 menjadi yang terendah untuk periode kuartal ketiga dalam 14 tahun terakhir. Kondisi ini terutama dipengaruhi oleh berlanjutnya kelangkaan komponen memori yang turut menekan industri perangkat elektronik.
Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan memori, tetapi juga tingginya harga komponen. Kondisi ini meningkatkan biaya produksi dan memberikan tekanan terhadap harga jual smartphone di pasar global.
Kinerja Samsung yang menguat disebut didorong oleh tingginya permintaan awal terhadap lini ponsel lipat Galaxy Z Fold8, Fold8 Ultra, dan Flip8. Dari ketiga perangkat tersebut, Galaxy Z Fold8 dilaporkan menjadi model yang paling menonjol dalam menarik minat konsumen.
Di sisi lain, Apple mencatatkan pencapaian penting dengan pangsa pasar yang menembus 20 persen pada kuartal ketiga untuk pertama kalinya dalam sejarah periode tersebut.
Counterpoint Research menilai permintaan terhadap smartphone premium masih relatif kuat. Sebaliknya, segmen ponsel kelas terjangkau menghadapi tekanan lebih besar akibat kenaikan harga yang dipicu oleh mahalnya komponen memori.
Perbedaan kondisi tersebut menunjukkan bahwa konsumen di segmen premium masih memberikan dukungan terhadap produk unggulan, sementara kenaikan harga menjadi tantangan bagi pasar yang lebih sensitif terhadap biaya.
Counterpoint Research memperkirakan harga ritel smartphone global telah meningkat sekitar 20 persen sepanjang 2026. Kenaikan ini menambah tantangan bagi produsen yang harus menjaga daya saing produk di tengah meningkatnya biaya komponen.
Untuk sisa tahun ini, prospek industri smartphone diperkirakan masih menghadapi tekanan. Produsen dinilai semakin memprioritaskan profitabilitas dibandingkan mengejar volume pengiriman dalam jumlah besar.
Strategi tersebut diperkirakan mendorong perusahaan mengurangi produksi, menyederhanakan portofolio produk, serta lebih berfokus pada perangkat premium yang menawarkan margin keuntungan lebih tinggi.
Dengan kondisi tersebut, persaingan industri smartphone global tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menjual perangkat dalam jumlah besar, tetapi juga oleh strategi harga, pengelolaan biaya produksi, dan kemampuan mempertahankan permintaan di tengah tekanan pasar. (LWM)

