RELUNG.ID – Ketua Asosiasi Driver Online (ADO) Sumatera Selatan, M Asrul Indrawan, mengakui dirinya menggelar aksi sosial pembagian masker di depan Markas Polda Sumsel sebelum bentrokan yang melibatkan mahasiswa Cipayung Plus Palembang dan sekelompok orang tak dikenal.
Asrul menyebut kegiatan tersebut dilakukan atas permintaan Direktur Intelkam Polda Sumsel. Ia mengaku telah mengerahkan sekitar 100 anggota ADO untuk mengikuti kegiatan yang awalnya dijadwalkan berlangsung pada Kamis (15/10/2026).
Pengakuan tersebut mencuat setelah bentrokan di sekitar Mako Polda Sumsel menyebabkan enam orang menjadi korban pengeroyokan. Mereka terdiri dari tiga mahasiswa, seorang anggota Polri, serta dua wartawan, yakni Rachmad Kurniawan dari Tribun Sumsel-Sriwijaya Post dan Mulyadi dari Pal TV.
Asrul menegaskan bahwa pihaknya tidak terlibat dalam bentrokan tersebut. Ia mengatakan, kedatangan anggota ADO ke Polda Sumsel sejak awal bertujuan untuk membagikan masker.
“Jadi gini, kami tidak pernah bentrok. Tidak pernah bentrok. Perlu diluruskan dulu ya. Kami itu memang ada dari awal pembagian masker. Sudah direncanakan. Jadi Pak Direktur Intelkam menyuruh jam satu siang kumpul di Polda. Setengah satu kami datanglah dengan seratus orang, ketemunya kumpul di dalam,” katanya dikutip dari TribunSumsel.
Menurutnya, kegiatan pembagian masker sempat ditunda karena adanya rencana demonstrasi mahasiswa. Ia mengaku pihaknya juga sempat membuat video ajakan agar masyarakat tidak terprovokasi dan tetap menjaga situasi kondusif.
“Pak Dir katakan, Mas, nanti jangan jam satu, ada orang mau demo. Sudah, biarkan mereka demo dulu. Jadi kami menunda ke sore. Tapi sudah jam tiga, demo belum datang-datang juga,” katanya.
Asrul mengatakan, dirinya baru mengarahkan anggota untuk keluar dan membagikan masker setelah mendapat persetujuan. Namun, saat berada di luar, ia melihat kelompok lain yang juga melakukan kegiatan serupa.
Ia mengaku sempat mempertanyakan keberadaan kelompok tersebut karena tidak bergabung dengan rombongan ADO yang sebelumnya berkumpul di dalam kompleks Polda Sumsel.
“Pas di luar itulah ada ormas itu. Jadi aku ini bertanya, ini ngapain, Mas? Itu Pak Dir, ini bagi masker juga, kok tidak bersama-sama kami dari dalam,” ujarnya.
Asrul menegaskan tidak mengenal kelompok berbaju hitam yang disebut terlibat dalam bentrokan. Ia juga membantah adanya keterlibatan anggota ADO dalam aksi kekerasan tersebut.
“Tidak tahu, demi Allah, demi Rasul, aku tidak tahu nian,” tegasnya.
Saat bentrokan terjadi, Asrul mengaku berada di gerbang lain dan berusaha menjauh dari keributan. Ia juga mengklaim telah mengingatkan anggotanya agar tidak ikut terlibat dalam konflik.
“Pas di situ, aku menghindar jauh. Karena aku tahu takut ada masalah dengan yang lain. Jadi kusuruh anggotaku juga jangan ikut-ikutan,” katanya.
Ia mempersilakan pihak yang menuding anggota ADO melakukan pemukulan untuk menunjukkan bukti berupa foto atau rekaman video. Asrul menyatakan siap mengikuti proses hukum apabila ditemukan bukti yang menunjukkan keterlibatan anggotanya.
“Buktikan saja, kan ada laporan polisi. Anggota kita tidak pernah gebuk. Fotonya atau videonya, aku yang bawa anggotaku. Kalau aku silakan, tidak ada masalah. Silakan proses hukum yang berlaku,” ujarnya.
Asrul juga membedakan atribut yang dikenakan anggotanya dengan kelompok yang terlibat bentrokan. Menurut dia, anggota ADO saat itu menggunakan seragam atau atribut pengemudi ojek daring dari berbagai perusahaan.
“Kalau aku pakai baju ADO, ada kawan-kawan pakai baju ojol. Kami jelas beruniform. Ada yang Grab, Gojek, Maxim, Shopee, campur-campur. Tidak ada yang tidak pakai uniform. Baju-baju yang bentrok itu kebanyakan baju hitam semua,” jelasnya.
Menanggapi desakan sejumlah aktivis agar dirinya ditangkap, Asrul mempersilakan pihak yang memiliki bukti untuk menempuh jalur hukum. Ia menyatakan tidak keberatan apabila dugaan keterlibatan dirinya maupun anggotanya diproses sesuai ketentuan yang berlaku.
Di sisi lain, Asrul menegaskan ADO Sumsel tetap mengecam segala bentuk kekerasan, terutama yang berkaitan dengan kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum.
“Kita tetap, kalau dari ADO, mengutuk keras aksi-aksi kekerasan. Apalagi terhadap kebebasan berpendapat, tetap kita mengutuk keras,” pungkasnya.
Hingga berita ini ditulis, pernyataan Asrul mengenai dugaan keterlibatan kelompok lain maupun bantahannya terhadap keterlibatan anggota ADO merupakan keterangan dari pihak yang bersangkutan dan masih memerlukan verifikasi melalui proses penyelidikan aparat penegak hukum. (vid)

