Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Karhutla Masih Membara, Kualitas Udara Kembali Memburuk, Optimalisasi Dry Ice Disorot

20/10/2026

Peringati HUT ke-75 Humas Polri, Bidhumas Polda Sumsel Perkuat Kepedulian Sosial

20/10/2026

Kebakaran di 8 Ulu Hanguskan Empat Rumah, Polisi Turunkan Water Canon Padamkan Api

19/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Tuesday, 20 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Regional»Penanganan Karhutla Sumsel Dikritik, Pemerintah Dinilai Gagal Cegah Asap
Regional

Penanganan Karhutla Sumsel Dikritik, Pemerintah Dinilai Gagal Cegah Asap

ADMINBy ADMIN18/10/2026
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID – Penanganan kebakaran hutan, lahan, dan kebun (karhutlabun) di Sumatera Selatan (Sumsel) menuai kritik. Pemerintah daerah dinilai gagal mengantisipasi ancaman kebakaran, meski potensi kemarau dan El Nino telah diperingatkan sejak awal 2026.

Ketua Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Sumsel, Anwar Sadat, menilai kabut asap yang masih mengganggu aktivitas masyarakat menunjukkan lemahnya mitigasi dan kesiapsiagaan pemerintah, mulai dari tingkat provinsi hingga kabupaten dan kota.

Kritik itu disampaikan Anwar dalam Round Table Discussion bertajuk “Udara Bersih Hak Kita” di Hotel Swarnadwipa, Palembang, Sabtu (17/10/2026). Kegiatan bertema kolaborasi lintas pemangku kepentingan dalam mitigasi dan adaptasi karhutlabun tersebut diinisiasi AIPI Sumsel bersama PSKP, GKJI, DKR, dan Teras Indonesia.

Baca juga :   Wapres Gibran Kunker ke Sumsel, Tinjau Panen Raya hingga Tol Palembang-Betung

Menurut Anwar, peringatan ancaman kemarau dan El Nino seharusnya menjadi dasar untuk memperkuat deteksi dini, pencegahan, serta sistem tanggap darurat. Namun, kabut asap yang terus menyelimuti sejumlah wilayah menunjukkan perlunya evaluasi serius terhadap langkah pemerintah.

“Seharusnya sebelum bencana asap karhutla melanda, pemerintah, khususnya gubernur, bupati, dan wali kota, telah melakukan mitigasi dan mempersiapkan pencegahan serta kesiapsiagaan atau respons cepat untuk mengendalikan meluasnya kebakaran,” ujar Anwar.

Ia mempertanyakan efektivitas langkah pemerintah ketika kebakaran masih sulit dikendalikan, sementara dampaknya semakin dirasakan masyarakat.

Baca juga :   Fenomena Ketubean Kembali Terjadi di Sungai Musi Empat Lawang, Warga Berbondong-bondong Tangkap Ikan

Menurutnya, karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan. Kabut asap juga mengancam kesehatan, menghambat aktivitas warga, dan berpotensi menekan produktivitas masyarakat, terutama mereka yang bekerja di luar ruangan.

Anwar menegaskan, hak atas udara bersih dan lingkungan hidup yang sehat harus menjadi perhatian utama pemerintah. Karena itu, penanganan tidak boleh hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga harus mencakup perlindungan kesehatan warga.

Ia menyoroti minimnya sosialisasi dan edukasi mengenai risiko paparan asap. Pemerintah diminta memastikan masyarakat memperoleh informasi yang jelas tentang kondisi kualitas udara dan langkah perlindungan diri.

Baca juga :   Produksi Batu Bara Sumsel Tembus 100 Juta Ton dalam Dua Tahun Berturut-turut

Anwar juga mendesak pemerintah mendirikan posko kesehatan di titik-titik strategis yang mudah dijangkau warga. Bantuan berupa masker, vitamin, susu untuk balita, makanan bagi ibu hamil dan lansia, serta sembako juga dinilai perlu disalurkan kepada masyarakat terdampak.

Tenaga kesehatan, lanjutnya, harus lebih aktif mendatangi permukiman untuk memberikan pelayanan sekaligus mendeteksi gangguan kesehatan akibat paparan asap.

“Mari kita bersama-sama melindungi diri, keluarga, dan masyarakat dari bahaya kabut asap,” katanya.

Baca juga :   Dua Pelaku Perampokan Truk Fuso di OKU Timur Ditangkap, Dua Lainnya Masih DPO

Sementara itu, Ketua Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (FOKAL IMM) Sumsel yang juga anggota DPRD Kota Palembang, Ruspanda Karibullah, menyoroti dampak karhutla terhadap kesehatan dan perekonomian masyarakat.

Dalam diskusi tersebut, Ruspanda menyebut luas lahan terbakar di Kota Palembang mencapai 452 hektare. Ia juga memaparkan data kasus ISPA, yakni 115 kasus di Kecamatan Sukarami, 64 kasus di Kertapati, dan 63 kasus di Kalidoni.

Data tersebut, menurutnya, menjadi peringatan bahwa dampak kabut asap membutuhkan penanganan darurat yang terukur, terutama di wilayah dengan kasus ISPA yang menjadi perhatian.

Baca juga :   Menteri KKP Tinjau Kampung Nelayan di Lombok, Konstruksi yang Dinilai Buruk Disorot

“Harus ada respons cepat melalui intervensi darurat untuk menyelamatkan warga, seperti mobilisasi tambahan logistik dan mobil klinik di Kecamatan Sukarami dan Kertapati. Biaya penanganan dan obat ISPA juga perlu dibebaskan, disertai bantuan sembako, vitamin, dan masker bagi masyarakat,” ujar Ruspanda.

Ia mengapresiasi kerja tim medis Dinas Kesehatan, satuan tugas, BPBD, dan petugas pemadam kebakaran di lapangan. Namun, menurutnya, upaya tersebut belum cukup jika pemerintah masih lebih banyak bergerak setelah kebakaran terjadi.

Pencegahan, mitigasi, dan penanganan wilayah rawan kebakaran harus diperkuat agar pemerintah tidak terus berada dalam posisi reaktif setiap kali karhutla meluas.

Baca juga :   Hari ke-10 Puasa Ramadan, Berikut Jadwal Imsyakiyah dan Subuh untuk Wilayah Palembang

Sebelum diskusi digelar, FOKAL IMM Sumsel telah membagikan 1.000 paket bantuan berisi vitamin, madu, air mineral, dan masker kepada masyarakat.

“Untuk itulah, kami berharap dan mengajak semua pihak untuk bertindak. Udara bersih dan kesehatan adalah hak kita,” kata Ruspanda.

Dari sisi lingkungan, pakar lingkungan Dr. Ir. H. M. Najib Asmani, M.Si., menekankan pentingnya mitigasi dan konservasi, terutama di kawasan gambut yang rentan terbakar. (DSK)

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleBau Menyengat Gegerkan Warga Banyuasin, Perempuan 62 Tahun Ditemukan Tewas
Next Article Karhutla Berbulan-bulan, Video Raja Juli soal Dana Pemadaman Jadi Sorotan
ADMIN

Related Posts

Regional

Karhutla Masih Membara, Kualitas Udara Kembali Memburuk, Optimalisasi Dry Ice Disorot

20/10/20262 Views
Regional

Peringati HUT ke-75 Humas Polri, Bidhumas Polda Sumsel Perkuat Kepedulian Sosial

20/10/20263 Views
Regional

Kebakaran di 8 Ulu Hanguskan Empat Rumah, Polisi Turunkan Water Canon Padamkan Api

19/10/202612 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202330,033 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202429,870 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202523,828 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,360 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?