RELUNG.ID – Penutupan pabrik sepatu bata (BATA) membuat heboh masyarakat di Indonesia.
Pasalnya, pabrik sepatu di Purwakarta tersebut telah berdiri sejak 1994 silam.
Hal ini mengundang penasaran penyebab dari penutupan pabrik sepatu yang memiliki karyawan hingga ratusan ini.
Dikutip dari keterangan resminya, Direktur dan Corporate Secretary BATA, Hatta Tutuko mengatakan, meski berat namun keputusan untuk menutup pabrik harus dilakukan.
Pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan keberlangsungan pabrik. Bahkan, sejak empat tahun terakhir perusahaan telah berjuang di tengah kerugian dan tantangan industri akibat pandemi dan perubahan prilaku konsumen yang begitu cepat.
Namun, segala upaya itu menemui jalan buntu. Sehingga, manajemen dan komisaris memutuskan pabrik mereka di Purwakarta harus ditutup.
“Dengan adanya keputusan ini, maka Perseroan tidak dapat melanjutkan produksi di pabrik Purwakarta,” katanya.
Keputusan ini tertanggal 30 April 2024 yang sebelumnya telah disetujui berdasarkan persetujuan dari Keputusan Dewan Komisaris tanggal 29 April 2024.
Keputusan ini merupakan hal terbaik yang dapat diambil berdasarkan evaluasi menyeluruh dan kesepakatan pihak-pihak terkait, dan bertujuan untuk mengefektifkan operasional Perseroan.
“Perseroan berkomitmen untuk memastikan kelancaran transisi bagi seluruh karyawan dan mitra kami yang terkena dampak perubahan ini,” lanjut Hatta.
BATA telah menderita kerugian sebesar Rp80,65 miliar pada periode Januari sampai September 2023, membengkak 294,76 persen dibanding kerugian ada Januari-September 2022 yang tercatat sebesar Rp20,43 miliar.
Penjualan bersih Perseroan tercatat turun 0,42 persen menjadi Rp 488,47 miliar pada Januari sampai September 2023, dari Rp 490,57 miliar periode sama 2022.

