RELUNG.ID — Penjualan kendaraan listrik di seluruh dunia diperkirakan akan melonjak 17% pada 2025, mencapai 20 juta unit, menurut laporan terbaru dari perusahaan riset Rho Motion. Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya produksi kendaraan listrik, termasuk model plug-in hybrid (PHEV), serta kebijakan subsidi yang diterapkan di beberapa negara.
China menjadi pasar utama yang mendorong lonjakan tersebut, terutama dengan perpanjangan subsidi tukar tambah mobil listrik yang diyakini akan semakin memperkuat dominasi Negeri Tirai Bambu dalam industri kendaraan ramah lingkungan.
Eropa menjadi pasar kendaraan listrik terbesar kedua setelah China. Pertumbuhan di benua ini terus berlanjut seiring dengan diterapkannya target emisi CO2 serta semakin banyaknya model kendaraan listrik dengan harga terjangkau.
Menurut Kepala Riset Rho Motion, Lola Hughes, laju pertumbuhan kendaraan listrik secara global kemungkinan lebih lambat dibandingkan 2023, tetapi masih tetap menunjukkan peningkatan signifikan.
“Tahun 2025 akan menjadi periode krusial bagi produsen mobil, terutama dengan target baru dari Uni Eropa dan kebijakan subsidi dari China,” kata Hughes.
Sementara itu, kondisi di Amerika Serikat (AS) mengalami ketidakpastian setelah Presiden Donald Trump mengisyaratkan akan mencabut target elektrifikasi yang sebelumnya diterapkan pemerintahannya.
“Kami memperkirakan proyeksi kendaraan listrik di AS akan lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Namun, peralihan ke kendaraan listrik tetap berlangsung, dan kita akan melihat pertumbuhan yang kuat dalam dekade mendatang,” tambahnya.
Dengan perkiraan pertumbuhan 17% pada 2025, China semakin mengokohkan posisinya sebagai pemimpin industri kendaraan listrik dunia. Tahun sebelumnya, penjualan kendaraan listrik di negara tersebut meningkat hingga 40%, dengan total 11 juta unit terjual.
Di kawasan Amerika Latin, kendaraan listrik buatan China bahkan diperkirakan akan menguasai lebih dari 80% pangsa pasar, seiring dengan meningkatnya penetrasi kendaraan listrik di Asia-Pasifik dan negara berkembang lainnya.
Di Eropa, penjualan kendaraan listrik diprediksi meningkat 15% dibandingkan tahun lalu, di mana pada 2024 tercatat 3 juta unit terjual. Namun, tantangan tetap ada, terutama bagi produsen mobil yang berisiko terkena denda sebesar 10 miliar euro akibat gagal memenuhi target emisi Uni Eropa.
Di tengah pertumbuhan global, pasar kendaraan listrik di Amerika Serikat menghadapi tantangan baru akibat perubahan kebijakan yang kemungkinan akan diterapkan oleh Presiden Donald Trump.
Meski Rho Motion memperkirakan penjualan kendaraan listrik di AS tetap tumbuh 16% pada 2025, kebijakan Trump berpotensi memengaruhi permintaan jangka panjang. Bahkan, riset tersebut menyebutkan bahwa permintaan baterai kendaraan listrik di AS bisa turun hingga 47% pada 2040, jika perubahan kebijakan terus berlanjut.
Meski begitu, industri kendaraan listrik diperkirakan masih akan berkembang pesat dalam beberapa dekade ke depan. Berbagai produsen otomotif terus berlomba menghadirkan inovasi dan memperluas pasar kendaraan listrik sebagai bagian dari transisi energi global.[TRA]

