RELUNG.ID – Puasa Ramadan bukan hanya menahan lapar dan dahaga tetapi juga sebagai sarana untuk mengendalikan seluruh aspek nafsu.
Hal ini terungkap dalam Kuliah Tujuh Menit (Kultum) Ramadan Relung Media yang disampaikan oleh Ustad Abdul Malik Syafei dari Dosen IAINU Sumsel dengan tema ‘Mengendalikan Nafsu, Meraih Taqwa.’ Jumat sore (14/3).
Ustad Malik menyampaikan, puasa adalah tentang melatih diri untuk menahan segala bentuk hawa nafsu. Menurutnya, puasa bukan semata-mata tentang menahan perut, melainkan juga tentang menundukkan pandangan, menjaga lisan, dan mengontrol tindakan agar terhindar dari perbuatan maksiat.
“Hal ini sejalan dengan pesan Imam al-Ghazali, yang menyatakan, barang siapa yang dapat mengendalikan nafsu, ia akan merdeka dan bahagia; sebaliknya, jika tidak, ia akan menjadi budak terbelenggu,” katanya.
Dalam sebuah hikayah tentang penciptaan akal dan nafsu. Ketika Allah memanggil akal, sang akal dengan rendah hati menjawab bahwa dirinya adalah hamba yang tunduk.
Namun, ketika nafsu dipanggil, nafsu malah menunjukkan sikap sombong yang membuatnya kemudian dihukum dan dimasukkan ke dalam neraka.
Beberapa kali nafsu terus menunjukkan sombongnya terhadap Allah SWT. Hingga dia akhirnya sadar jika dirinya merupakan hamba Allah SWT.
“Cerita ini menggambarkan betapa pentingnya pengendalian diri; bahwa tanpa pengendalian, nafsu akan mendominasi dan membawa kehancuran,” ujarnya.
Menurutnya, bulan Ramadan sebagai sebuah kompetisi spiritual yang berlalu sangat cepat. Di mana, terbagi ke dalam beberapa fase:
10 Hari Pertama: Fase awal perjuangan pengendalian diri.
10 Hari Kedua (Mazbirah): Fase penuh makna di mana intensitas spiritual semakin meningkat.
10 Hari Terakhir (Isbum): Babak final di mana pengendalian nafsu mencapai puncaknya.
“Karena itu setiap muslim harus memanfaatkan setiap fase Ramadan sebagai momentum perbaikan diri, menghapus dosa, dan mendidik hati agar menjadi lebih taqwa,” terangnya.
Orang yang berhasil mengendalikan diri selama puasa akan mendapatkan dua kebahagiaan. Pertama, kebahagiaan duniawi saat berbuka puasa. Ini sebuah momen syukur bersama keluarga setelah menahan lapar dan dahaga.
Kedua, kebahagiaan akhirat, yaitu perjumpaan dengan Allah di hari pembalasan, di mana ridha-Nya dijanjikan bagi hamba-hamba yang istiqomah dalam mengendalikan diri.
“Marilah kita memanfaatkan Ramadan ini sebagai sarana perubahan diri yang relevan dan menginspirasi,” pungkasnya. (LWM)

