RELUNG.ID – Malam 1 Suro menandai pergantian tahun baru Jawa sekaligus bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah.
Pada tahun 2025, perayaan ini jatuh pada Kamis malam setelah waktu Maghrib.
Bagi masyarakat Jawa, Malam Satu Suro adalah momentum sakral penuh refleksi dan permohonan keselamatan.
Kata “Suro” bersumber dari istilah Arab Asyura (عَاشُورَاء) yang berarti “sepuluh”, merujuk pada tanggal 10 Muharram.
Melalui akulturasi budaya lokal dan ajaran Islam, istilah ini kemudian menjadi penanda malam pertama bulan Muharram dalam kalender Jawa.
Di sinilah masyarakat melakukan persiapan spiritual menyambut tahun baru Jawa.
Tradisi Malam 1 Suro terpantik sejak era Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613–1645) dari Kerajaan Mataram Islam.
Sultan Agung berupaya menyatukan golongan Abangan dan Putihan dengan memperkenalkan kalender Jawa perpaduan saka Hindu-Buddha, sistem Islam, dan budaya agraris Jawa.
Malam Satu Suro menjadi sarana introspeksi diri dan penghormatan leluhur, termasuk ziarah ke makam keramat dalam upacara tertentu.
Secara umum, Malam 1 Suro dianggap waktu yang tepat untuk introspeksi diri, dan puncak energi spiritual.
Hal ini pun mengundang sejumlah tradisi di berbagai daerah Jawa, mulai dari Tirakatan hingga pencucian pusaka.
Malam 1 Suro ini juga terkadang mengiring beragam mitos, seperti larangan keluar rumah, waktunya para dukun, hingga larangan pindah rumah.
Meski demikian, di tengah modernisasi ini, sebagian masyarakat Jawa mengikuti ritual dengan penekanan pada nilai spiritual dan kebersamaan keluarga.
Mereka memilih mengambil sisi positif Malam Satu Suro yaitu refleksi diri, mempererat tali silaturahmi, dan meningkatkan kepedulian sosial ketimbang terjebak superstisi. (vid)

