RELUNG.ID – Para petani kopi di Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan, tengah dihantui kepanikan. Harga jual komoditas andalan mereka terus merosot tajam, dari semula Rp70 ribu per kilogram kini tinggal Rp45 ribu. Bahkan sebelumnya sempat menyentuh titik nadir Rp44 ribu per kilogram.
Penurunan ini bukan sekadar fluktuasi biasa. Dalam tempo sebulan terakhir, harga kopi terus melorot: dari Rp70 ribu ke Rp65 ribu, lalu Rp60 ribu, Rp55 ribu, hingga ambles di bawah Rp50 ribu.
“Hari ini naik sedikit, tapi tetap saja, Rp45 ribu itu harga yang nyiksa petani,” kata Yansah, petani kopi di Kecamatan Ulu Musi, Minggu (27/7/2025).
Menurutnya, kejatuhan harga dimulai menjelang Idul Adha lalu, bertepatan dengan panen raya dan libur sekolah. Kondisi ini menyebabkan pasokan membanjiri pasar, sementara permintaan stagnan.
Apip, petani di Kecamatan Muara Pinang, juga mengeluhkan nasib serupa. “Waktu awal panen, sempat jual di Rp71 ribu. Tapi sekarang, saat semua mulai panen, harga langsung jeblok,” ujar Apip.
Di tengah harga yang terjun bebas, biaya produksi tetap tinggi. Para petani mengaku modal untuk tenaga kerja, pupuk, hingga perawatan pohon kopi tak sebanding dengan harga jual saat ini. Mereka menyebut harga ideal agar tetap untung adalah Rp60 ribu–Rp65 ribu per kilogram.
Kepala Dinas Pertanian Empat Lawang, Hendra Lezi, menyebut anjloknya harga kopi dipicu banyak faktor, termasuk peningkatan produksi global, penurunan permintaan, kualitas biji kopi yang belum optimal, hingga fluktuasi nilai tukar rupiah.
“Selain faktor eksternal, kondisi cuaca dan kualitas pascapanen ikut berpengaruh. Kadar air tinggi bikin harga turun,” jelasnya. (SLM)

