RELUNG.ID – Langit malam pada Minggu (7/9/2025) nanti diperkirakan akan berbeda. Bulan purnama yang biasanya memancarkan cahaya terang, akan perlahan tertutup bayangan bumi. Fenomena gerhana bulan total atau blood moon ini akan terjadi bertepatan dengan 15 Rabiul Awal 1447 H, atau 7–8 September 2025.
Menurut data Lembaga Falakiyah PBNU, awal fase gerhana sebagian akan dimulai Minggu (7/9/2025) pukul 23.27 WIB. Selanjutnya, fase total dimulai Senin (8/9/2025) pukul 00.30 WIB, puncaknya terjadi pukul 01.11 WIB, lalu berakhir pukul 01.52 WIB. Seluruh fase gerhana selesai pukul 02.56 WIB dengan total durasi 3 jam 29 menit 24 detik.
Secara astronomi, gerhana bulan terjadi karena bumi berada di antara matahari dan bulan, sehingga cahaya matahari yang biasanya menerangi bulan terhalang. Namun bagi umat Islam, fenomena ini bukan hanya peristiwa sains, melainkan tanda kebesaran Allah SWT.
“Gerhana bisa dihitung waktunya dengan pasti, tetapi secara spiritual ia menjadi pengingat bahwa manusia itu kecil di hadapan kuasa Allah,” ujar Ketua PCNU Palembang sekaligus pengasuh Ponpes Mina Palembang, Dr Abdul Malik Syafei, Jumat (5/9/2025).
Rasulullah SAW mencontohkan agar saat terjadi gerhana, umat Islam melaksanakan shalat khusuf al-qamar. Shalat sunnah ini menjadi wujud ketundukan kepada Allah, menegaskan bahwa gerhana bukan pertanda musibah atau kematian, melainkan peringatan ilahi.
Abdul Malik menambahkan, selain shalat gerhana, umat Islam dianjurkan memperbanyak zikir dan doa. “Setelah shalat khusuf, sebaiknya memperbanyak istighfar, zikir, dan doa. Itu bentuk kesadaran spiritual bahwa semua peristiwa alam ada dalam genggaman Allah SWT,” tuturnya.
Di banyak daerah, umat Islam biasanya melaksanakan shalat gerhana berjamaah di masjid. Doa-doa dipanjatkan agar Allah menjauhkan umat dari bala, sekaligus sebagai pengingat bahwa kehidupan di dunia fana dan manusia wajib senantiasa mengingat Sang Pencipta.
Nahdlatul Ulama menekankan pentingnya memadukan ilmu pengetahuan dengan iman. Secara ilmiah, gerhana bisa diprediksi dengan akurat, namun secara spiritual ia menegaskan betapa agungnya kuasa Allah SWT.
Bagi sebagian umat, menyaksikan gerhana secara langsung memberikan pengalaman mendalam. Bulan yang biasanya bercahaya terang tiba-tiba meredup dan memerah, seolah langit sedang menegur manusia agar tak lupa bersujud.
“Gerhana ini momentum bersama, bukan sekadar tontonan langit. Ia panggilan untuk beribadah, memperbanyak zikir, dan mendekatkan diri kepada Allah,” pungkas Abdul Malik.(KPB)

