RELUNG.ID – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menyiapkan langkah besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih berkualitas dan efisien. Salah satunya melalui upaya menekan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) — indikator penting yang menunjukkan seberapa efektif investasi mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi.
Kepala Bappeda Sumsel, Regina Ariyanti, mengungkapkan saat ini angka ICOR Sumsel masih berada di kisaran 6%, mendekati rata-rata nasional. Padahal, agar target pertumbuhan ekonomi daerah bisa menembus 8% dalam lima tahun ke depan, ICOR idealnya ditekan hingga 4,5%.
“ICOR kita masih cukup tinggi. Kalau mau pertumbuhan ekonomi melesat, efisiensi investasi harus ditingkatkan. Idealnya di angka 4,5%,” kata Regina, Jumat (24/10/2025).
Regina menilai, menurunkan ICOR bukan semata soal besarnya dana investasi, melainkan bagaimana modal yang ditanam bisa cepat menghasilkan output ekonomi.
Ia menyebut dua kunci utama yang harus dibenahi: iklim investasi yang kondusif dan birokrasi yang efisien.
“Tanpa perbaikan dalam kemudahan perizinan dan penyederhanaan birokrasi, ICOR sulit turun. Ini tantangan nasional, tapi di Sumsel kami ingin bergerak lebih cepat,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemerintah daerah tengah mempercepat digitalisasi layanan investasi dan penyusunan peta potensi ekonomi berbasis wilayah agar investor dapat menanam modal secara terarah dan produktif.
Selain pembenahan birokrasi, Pelabuhan Palembang Baru (Tanjung Carat) disebut sebagai instrumen penting untuk meningkatkan efisiensi ekonomi Sumsel.
Pelabuhan tersebut diharapkan menjadi gerbang ekspor baru bagi komoditas unggulan seperti batu bara, karet, dan produk hilirisasi sawit.
“Kita ingin agar komoditas Sumsel bisa keluar langsung dari wilayah sendiri. Pelabuhan Tanjung Carat akan memperkuat daya saing ekspor kita,” jelas Regina.
Ia menambahkan, pemerintah daerah tengah menunggu penandatanganan MoU antara Gubernur Sumsel dan Menteri Perhubungan untuk mempercepat investasi dan pembangunan pelabuhan strategis itu.
Sementara itu, Sekretaris DPMPTSP Sumsel, Eko Agusrianto, mengungkapkan bahwa kinerja investasi di Sumsel hingga triwulan III 2025 menunjukkan hasil menggembirakan. Total nilai investasi mencapai Rp49,8 triliun, dengan Rp38,7 triliun berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan Rp11,1 triliun dari penanaman modal asing (PMA).
“Realisasi ini sudah mencapai 117% dari target daerah, meski baru 63% dari target nasional,” kata Eko.
Ia menambahkan, Pemprov Sumsel terus menyiapkan dokumen investment project ready to offer (IPRO) untuk proyek-proyek potensial, seperti hilirisasi batubara menjadi DME, pabrik CCO kelapa inti di Banyuasin, hingga pemanfaatan tangkos kelapa sawit dan hilirisasi beras di OKU Timur.
“IPRO ini memudahkan investor karena semua aspek proyek sudah siap, dari kajian teknis sampai legalitasnya,” jelasnya.
Langkah Sumsel menekan ICOR menandai pergeseran penting dalam paradigma pembangunan daerah — dari sekadar mengejar angka investasi besar menjadi memastikan setiap rupiah modal benar-benar produktif.
Dengan efisiensi investasi, penguatan infrastruktur logistik, dan hilirisasi industri daerah, Sumsel menargetkan diri menjadi poros ekonomi baru di Sumatera bagian selatan, sekaligus contoh provinsi yang mampu tumbuh cepat tanpa boros modal.
“Pertumbuhan tinggi hanya berarti jika efisien dan berkelanjutan. Itu arah pembangunan ekonomi Sumsel ke depan,” tegas Regina.[THQ]

