RELUNG.ID – Tengah malam di Muara Enim terasa berbeda di satu titik. Di Jalan Permai I, Kelurahan Pasar II, lampu terang benderang dari sebuah bangunan putih berukuran 29×20 meter masih menyala.
Asap tipis mengepul dari ventilasi dapur, membawa aroma tumisan bumbu yang menggoda. Di sinilah denyut kehidupan Stasiun Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polres Muara Enim II berdenyut dapur yang nyaris tak pernah tidur.
“Rutinitas kami dimulai sejak sore,” ujar Weni Suci, S.Pd, Kepala SPPG Polres Muara Enim II, dengan senyum ramah di tengah hiruk-pikuk aktivitas.
Pukul 15.00 WIB, tim pertama sudah datang untuk memeriksa logistik. Menjelang tengah malam, para juru masak bersiap di posisi. “Tepat pukul 00.00, dapur mulai pemanasan. Pukul 03.00 tim pemorsian masuk, lalu distribusi dimulai saat matahari terbit,” tambahnya.
Semua proses berjalan dengan disiplin tinggi dan protokol ketat. Setiap relawan wajib berganti pakaian, memakai APD lengkap, dan mencuci tangan sebelum masuk ke area dapur steril. Tak ada kompromi untuk kebersihan dan keamanan.
Begitu memasuki ruangan utama, suara wajan besar bersahut-sahutan. Di satu sisi, sayuran segar dicuci dan disortir. Di sisi lain, para cook dan prepare mengolah lauk dengan gerak ritmis seperti orkestra malam.
“Kami bekerja dalam sistem shift, karena dapur ini hidup hampir 24 jam,” kata Weni.
Di balik pintu stainless steel, Beny Suprayugo, A.Md, Kepala Teknis Dapur SPPG, memandu awak media menelusuri area demi area. “Desain dapur ini mengacu pada standar Badan Gizi Nasional (BGN). Semua ruangan dipisah: penyimpanan bahan, ruang pendingin, dapur pengolahan, hingga area distribusi,” jelasnya.
Lantai epoxy antimikroba berkilau bersih, udara segar mengalir berkat exhaust fan besar yang berputar tanpa henti. Limbah cair dialirkan ke biotank berkapasitas 5.000 liter, sementara alat makan disterilkan di ruang khusus. “Kami punya dua petugas yang memantau kebersihan setiap jam,” kata Beny.
Di dapur utama, Executive Chef Ahmad Syarif tampak khusyuk mengaduk wajan besar berisi sayur labu. Di sekelilingnya, tujuh cook dan tujuh prepare bekerja dengan ritme yang rapi dan cepat.
“Semua bahan harus higienis. Sebelum dipotong, kami rendam, cuci, dan periksa ulang agar bebas dari cacing atau sisa pestisida,” ujar Syarif tanpa menghentikan gerakan tangannya.
Ia menjelaskan, untuk menjaga kualitas, ribuan porsi makanan tak pernah dimasak sekaligus. “Kami bagi dalam dua sampai tiga sesi agar rasa dan kesegarannya tetap terjaga,” katanya. “SOP kami hampir seperti dapur hotel bintang lima, semua langkah terukur dan diawasi.” katanya.
Setelah proses masak selesai, tanggung jawab berpindah ke Winda Maniza Putri, S.Tr.T, sang Asisten Lapangan. Ia memastikan ribuan porsi makanan bergizi itu sampai di tangan penerima manfaat dengan aman dan tepat waktu.
“Sebelum program berjalan, kami sudah MoU dengan sekolah-sekolah penerima. Minggu pertama ada 13 sekolah, minggu kedua sudah 20 sekolah,” ujarnya.
Distribusi dilakukan tiga kali sehari pukul 08.00, 10.00, dan 11.00 WIB. Dua kendaraan, mobil box dan blind van, berangkat dengan gembok keamanan terpasang.
Namun sebelum meninggalkan dapur, setiap porsi wajib melalui satu tahap penting: uji keamanan makanan oleh Dokkes Polres Muara Enim. Petugas dari Dokkes memeriksa suhu, kadar air, aroma, dan kemungkinan kontaminasi, memastikan makanan benar-benar aman dikonsumsi.
“Ini bagian paling vital. Kami tidak akan kirim satu boks pun tanpa rekomendasi dari Dokkes,” tegas Winda.
Bagi seluruh tim, tanggung jawab mereka bukan sekadar memasak. “Kami bangga bisa berpartisipasi dalam program Makanan Bergizi (MBG) dari Presiden Prabowo,” ujar Winda tersenyum. “Karena setiap kotak makanan yang kami kirim bukan hanya untuk mengenyangkan, tapi untuk membangun generasi yang sehat, cerdas, dan kuat.” tambahnya.
Dan di dapur yang tak pernah tidur itu, setiap malam selalu dimulai dengan semangat yang sama: memberi gizi, menjaga amanah, dan memastikan setiap suapan sampai dengan selamat. (LWM)

