RELUNG.ID – Produsen asal Korea Selatan, Samsung Electronics, kembali merebut posisi teratas dalam pasar ponsel pintar global pada kuartal ketiga tahun 2025 (Juli–September).
Berdasarkan laporan terbaru lembaga riset Omdia, Samsung mengirimkan 60,6 juta unit perangkat dengan pangsa pasar 19 persen, meningkat 6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Apple menempati posisi kedua dengan 56,5 juta unit dan pangsa pasar 18 persen, mencatat pertumbuhan 4 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Sementara itu, Xiaomi berada di posisi ketiga setelah mengirimkan 43,4 juta unit, dengan pangsa pasar 14 persen dan pertumbuhan 1 persen YoY.
Di peringkat keempat, Transsion Holdings perusahaan di balik merek Infinix, iTel, dan Tecno mencatat pertumbuhan tahunan terbesar di antara lima besar produsen, yakni 12 persen, melalui pengiriman 28,6 juta unit dengan pangsa pasar 9 persen.
Vivo melengkapi posisi lima besar dengan 28,5 juta unit dan pangsa pasar 9 persen, naik 5 persen dibandingkan kuartal ketiga 2024.
Pertumbuhan Samsung didorong oleh kesuksesan Galaxy Z Fold7 dan Galaxy Z Flip7 di segmen premium, serta performa kuat seri Galaxy A07 dan A17 di segmen menengah-bawah.
Sementara itu, iPhone 17 standar dari Apple disebut “melampaui ekspektasi peluncuran” berkat proposisi nilai yang lebih menarik dibandingkan generasi sebelumnya.
Xiaomi mengalami penurunan pengiriman di pasar Tiongkok setelah program subsidi pemerintah berakhir, namun pertumbuhan di kawasan Asia-Pasifik dan wilayah lain berhasil menutupi penurunan tersebut.
Vivo menunjukkan performa kuat di India dan berhasil menyalip Huawei di pasar Tiongkok, sambil memperluas jangkauan di Asia-Pasifik, Afrika, dan Amerika Latin.
Secara keseluruhan, pasar ponsel pintar global mencatat pengiriman 320,1 juta unit selama kuartal ketiga, tumbuh 3 persen YoY.
Omdia melaporkan bahwa pengiriman di Amerika Utara dan Tiongkok Raya menurun dibandingkan tahun sebelumnya, sementara kawasan Asia-Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika menunjukkan pertumbuhan yang kuat.
Di Afrika, pengiriman meningkat 25 persen, sedangkan kawasan Asia-Pasifik tumbuh 5 persen. Menariknya, pertumbuhan global didorong oleh perangkat kelas bawah (di bawah US$100) dan kelas premium (di atas US$700), sementara segmen menengah tetap lemah.
Omdia memperkirakan, dalam waktu dekat kenaikan harga perangkat baru dapat menghambat pertumbuhan di segmen kelas bawah, meskipun permintaan untuk ponsel premium dan entry-level diperkirakan akan tetap kuat hingga akhir tahun. (LWM)

