RELUNG.ID – CEO Hyundai Motor, Jose Muñoz, mengungkapkan bahwa seorang pejabat Gedung Putih telah menyampaikan permintaan maaf terkait penggerebekan aparat Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) di pabrik Hyundai di Savannah, Georgia.
Penggerebekan tersebut menimbulkan polemik tajam, terutama terkait perlakuan terhadap ratusan pekerja asal Korea Selatan.
Menurut Muñoz, pejabat Gedung Putih yang menghubunginya mengaku tidak mendapat pemberitahuan sebelumnya mengenai rencana operasi tersebut. Ia tidak menyebutkan nama pejabat yang dimaksud.
Pernyataan itu muncul setelah laporan bahwa sekitar 200 pekerja Korea Selatan yang sempat ditahan tengah mempersiapkan gugatan terhadap ICE atas tindakan tersebut.
Muñoz juga menyebut bahwa Gubernur Georgia turut menghubunginya dan menyatakan ketidakjelasan mengenai operasi tersebut. “Saya tidak tahu apa yang terjadi. Ini bukan yurisdiksi negara bagian,” ujar gubernur seperti dikutip Muñoz.
CEO Hyundai itu menduga adanya kemungkinan laporan palsu yang memicu penggerebekan. “Seseorang mungkin menelepon dan berpura-pura ada imigran ilegal yang bekerja di pabrik,” katanya.
Belum ada kejelasan mengenai berapa banyak pekerja dari Korea Selatan yang ternyata memiliki jenis visa yang tidak sesuai untuk bekerja di proyek pembangunan fasilitas Hyundai tersebut.
Sebagian dilaporkan menggunakan visa jangka pendek maupun visa kunjungan, meski sejumlah lainnya memiliki izin kerja yang sah.
Tak lama setelah penggerebekan, Presiden AS Donald Trump dikabarkan meminta agar lebih dari 300 pekerja yang ditahan tetap diizinkan tinggal di AS untuk membantu melatih tenaga kerja lokal. Namun rencana tersebut tidak terealisasi, dan para pekerja akhirnya dipulangkan ke Korea Selatan.
Trump kemudian mengatakan bahwa ia “sangat menentang” operasi itu.
Dari 475 pekerja yang ditahan dalam penggerebekan, 317 di antaranya adalah warga negara Korea Selatan. Mereka ditahan sekitar satu minggu dan dilaporkan ditempatkan dalam ruangan berisi 60–80 orang, dipaksa tidur di kasur berjamur, serta terpaksa meminum air yang berbau tidak sedap.
Salah seorang pekerja juga menuduh bahwa beberapa dari mereka menerima perlakuan merendahkan, termasuk ejekan dan hinaan bernada rasial dari petugas penjaga. (LWM)

